THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Sabtu, 14 Mei 2011

He is You ~A Morinozuka Takashi’s fanfic~

Desclaimer Ouran High School Host Club : Bisco Hatori
Ide awal : Morinozuka Takashi *yeah, the cool one*. Tadinya mo bikin fanfic tentang Nekozawa senpai tapi kenapa malah jadinya dia ?? Nb. Sedang galau, jadi harap maklum kalo ceritanya jadi mellow seperti ini. Btw, saya butuh saran. Menurut kalian, Hazuki lebih baik dengan Mori-senpai atau Kyoya ?  Konfliknya sendiri memang tidak sedalam fanfic Ouran sebelumnya dan saya nulis ini sebagai pelampiasan stres saya disaat saya sedang konflik dengan diri sendiri juga XP. Mohon kritik dan sarannya, terima kasih sudah mau membaca....
Nb. Para tokoh kecuali Morita Hazuki, Albert, Henry adalah tokoh Ouran Kokou Host Club. Bukan milik saya sendiri. Untuk lebih jelas tentang Ouran, silakan baca manganya – baik di majalah komik *Hanalala* atau komiknya sendiri *diterbitkan EMK*serta nonton animenya. Terima kasih sudah mau membaca^^

                                                                                         ******

“Kak Kyoya ? Papa bercanda, ‘kan ?” Aku meringis.

Papa menggelengkan kepalanya. “Tidak, Papa serius. Kau dan Kyoya akan bertunangan bulan depan. Kedua belah pihak telah setuju.”

“Apakah ini termasuk ke dalam syarat agar aku bisa memperoleh warisan kelak ? Dan bagaimana tanggapan kak Kyoya ?”
“Kami belum memberitahu Kyoya, tetapi orang tua Kyoya setuju. Jika kalian jadi menikah, itu akan membawa keuntungan berlipat bagi kita.”

“Aku tak mau bertunangan dengan cara seperti itu !” Kataku, meletakkan cangkir teh. Tanpa menunggu jawaban, aku meninggalkan mereka berdua. Tanpa sengaja, aku menabrak kak Kyoya yang baru saja keluar dari kamarnya. “Maafkan aku.” Hanya itu yang bisa aku katakan padanya.

Mengapa Papa dan Mama tiba-tiba ingin aku bertunangan dengan kak Kyoya ? Apakah ini bagian dari rencana mereka untuk memperluas jaringan bisnisnya ? Memang, perusahaan keluarga Ootori berbeda jauh dengan perusahaan keluargaku. Apa Papa setega itu ? Menjodohkan aku dengan kak Kyoya ?

Aku menganggap kak Kyoya seperti kakakku sendiri yang tak pernah aku miliki – kurasa dia juga merasakan hal yang sama. Dia begitu datar didepanku dan aku bebas terlihat manja didepannya karena dia pernah mengatakan jika aku adalah adiknya – tidak lebih. Hubungan kami sebagai saudara sepupu membuatku berpikir bahwa aku tak mungkin dijodohkan dengan kak Kyoya.

“Morita, kau mau ke mana ?”

Eh ? Kak Mori ? Tunggu dulu, di mana ini ?

“Tak biasanya kau berjalan sendirian, mana Kyoya ?” Tanya kak Mori. Aku tak menjawabnya dan hanya diam. Ponselku berbunyi. Dari Papa. Aku langsung mematikannya. Kak Mori tampak heran. “Apa kau tersesat ?”

“Tidak, aku memang sengaja pergi sendirian.” Kataku. “Kakak sendiri ?”

“Aku baru saja mengantar Mitsukuni pulang. Tidak biasanya kau pergi sendirian,” Ia memandangku heran.

Lagi-lagi ponselku berbunyi. Dari kak Kyoya. Aku tetap mengacuhkan panggilan. Kali ini aku memandang sekeliling dan membaca arah tujuan bus yang akan datang sebentar lagi. Mungkin tak ada salahnya aku bepergian sendirian dengan bus. Toh, aku terbiasa melakukannya saat di Jerman dulu. Namun, kali ini aku sendirian, tidak memberitahu orang rumah, dan hanya membawa beberapa yen saja.

Bus yang aku tunggu datang. “Aku harus pergi, kak. Selamat siang.” Kataku, membungkukkan badan kearahnya. Bersamaan dengan itu, kak Mori mengangkat ponselnya. Ia tertegun ketika mengangkat ponselnya sembari menoleh ke arahku. Aku tak tahu mengapa sorot matanya langsung berubah, ia langsung mengejar bus yang aku tumpangi. Namun, ia menabrak seorang pejalan kaki dan dengan terpaksa menolongnya dulu.


Entah berapa lama aku menempuh perjalanan. Aku bahkan tak tahu di mana aku sekarang. Kulihat sekeliling. Aku tak pernah tahu jika ada daerah dengan pemandangan yang cukup menarik di pinggiran kota. Kak Kyoya tak pernah mengajakku kemari. Kulihat ponsel. Banyak sekali yang melakukan panggilan, tetapi semuanya aku abaikan. Mulai dari Papa, Mama, Albert, kak Kyoya, hingga kak Mori.

“Morita.”

Aku menoleh. “Kak Mori ?? Kenapa kakak di sini ?”

“Kyoya memberitahuku tentang kepergianmu dan aku berusaha mencegahmu pergi, kenapa kau tetap naik bus itu ? Apa kau tak tahu betapa paniknya keluargamu ?” Tanya kak Mori.

“Itu bukan urusan kakak ! Kenapa kakak mau saja mengikutiku kemari ?” Kali ini aku mematikan ponsel. “Aku ‘kan tidak minta diikuti.”

“Karena Kyoya sebentar lagi akan kemari, aku diminta mengikutimu.” Ia memegang tanganku. “Aku akan mengantarmu ke restoran terdekat sembari menunggu kakakmu.”

“Tidak mau ! Aku tidak mau pulang !” Kataku. “Aku baru akan pulang ketika semuanya sudah tenang.”

“Apa maksudmu ?”

“Kedua orang tuaku bermaksud menjodohkan aku dengan kak Kyoya dan aku menolaknya.” Akhirnya aku menceritakan apa yang terjadi. “Mereka hanya mementingkan diri sendiri !” Aku berusaha melepaskan tanganku dari kak Mori, gagal.

“Aku tak ingin bertunangan dengan orang yang tidak aku cintai.”

Tiba-tiba kak Mori menghela napas panjang. “Kau terlalu naif rupanya, seharusnya kau sadar jika itu adalah salah satu konsekuensi kita sebagai pewaris beberapa perusahaan.” Ia memandangku. “Ketika kedua orang tua kita sepakat mengatur pertunangan kita dengan anak partner mereka, kita harus menerimanya – entah kita mencintainya atau tidak.”

“Tapi aku tidak mau begitu ! Aku ingin menikah dengan orang yang memang aku cintai, bukan yang harus aku cintai !” Kali ini aku benar-benar berusaha melepaskan tanganku darinya. Cengkeraman tangan kak Mori begitu kuat, lebih kuat daripada kak Kyoya. Dari tadi aku gagal melepaskan diri darinya.

Seorang pengawal mendekati kami. “Tuan Takashi, ada telepon dari tuan Ootori.” Ujarnya. Kak Mori melepaskan tanganku dan menyuruh pengawalnya menjagaku.

Ia pasti mengatakan di mana kami sekarang. Tak ada pilihan lainnya.

“Baiklah, kau bisa menemuinya nanti malam. Tak apa-apa, aku akan menjaganya sampai kau datang.” Ujar kak Mori, melirik kearahku. “Baiklah, selamat siang.”

“Apa . . . kak Kyoya sudah sampai ?”

“Ia baru akan menjemputmu nanti malam, apa kau sudah makan ?”

Aku menggelengkan kepala.

“Aku akan mengantarmu makan.”


Ia mengantarku ke sebuah restoran yang memiliki akses untuk melihat pemandangan yang sangat indah. Aku hanya bisa terkagum-kagum melihatnya. Kak Mori juga berbaik hati memesankan makanan untukku.

“Maafkan aku.”

“Untuk apa ?”

Aku memberanikan diri menatapnya. Deg ! Lagi-lagi dadaku berdebar-debar ketika melihatnya. Sorot matanya selalu tajam, kurasa aku mengerti mengapa penggemarnya tak kalah banyak dibanding kak Tamaki. Hari ini, aku seperti bukan melihat kak Mori yang biasanya. Biasanya aku tidak seperti ini, tetapi jika kami hanya berdua . . . .  

“Karena hari ini aku merepotkan kakak, seharusnya persoalanku di rumah tidak melibatkan orang lain.”

“Hm . . . . “

Hm ? Apakah hanya itu responnya ? Aku mengatakannya dengan serius tetapi mengapa responnya hanya seperti itu ?

“Apa ada tempat yang ingin kau datangi ?” Tanya kak Mori. “Sebentar lagi kakakmu sampai, kau tak ingin berkeliling sembari menunggunya ?”

Tiba-tiba aku teringat suatu tempat yang pernah aku baca di internet dan tempatnya di lokasiku sekarang. “Bisakah kakak mengantarku ke tempat itu ?”

“Tentu.”


Akhirnya !!! Aku bisa kemari !! Tadinya aku berencana kemari bersama Albert bulan depan ! Aku ingin memotret di sini sebelum pulang ke Jerman. Dari tempat kami sekarang, bisa kulihat langit yang begitu indah. Langit semakin gelap dan perlahan bintang muncul di langit.

“Morita.”

“Ya ?”

“Apakah kau sudah memikirkan kata-kataku tadi siang ?” Tanya kak Mori.

Aku tak langsung menjawab. Sebenarnya aku sedang tak ingin memikirkan hal itu. “Haruskah aku menerima perintah itu ?” Aku balik bertanya. “Aku masih tak ingin menikah dengan orang yang seharusnya aku cintai.”

“Bukankah kau baru akan bertunangan ? Kau tidak langsung menikah.” Sahut kak Mori. “Selama itu, kau masih bisa memikirkan langkahmu selanjutnya.”

Perlahan, aku menggelengkan kepalaku. “Aku tetap tak bisa karena . . . . “ Aku bingung mau meneruskan kalimatku atau tidak. “Sudah ada orang lain dan itu bukan kak Kyoya. Aku tahu jika aku begitu naif, tapi aku hanya ingin orang lain juga mengerti tentang apa yang aku inginkan.”

Kak Mori terdiam, ia tak mengatakan apa-apa. Matanya menerawang jauh. Dia begitu datar, bahkan menolehpun tidak.

Apakah aku salah jika berpikiran seperti itu ? Bukankah aku memiliki hak untuk memilih masa depanku ?

“Jika itu memang terbaik untukmu, ikuti kata hatimu.” Kata kak Mori. “Tapi kau juga harus memikirkan orang tuamu, keluarga, dan semua yang akan kau tinggalkan itu.”

“Pada akhirnya, aku kembali mengalah demi mereka, kan ?” Aku melirik ke arah kak Mori sebelum akhirnya menghela napas panjang. Ya, ungkin sebaiknya aku berubah pikiran karena orang yang aku sukai berpikir seperti itu.  “Dan meski aku didekat orang yang aku suka, aku tak boleh memiliki perasaan itu.”

“Apa maksudmu ?” Tanya kak Mori.

“Hazuki, ternyata  kau di sini. Ternyata tempat ini memang indah, sepertinya cocok untuk salah satu acara Host Club bulan depan.”

Terdengar suara kak Kyoya, aku berbalik dan memasang senyum termanis yang bisa aku tampilkan. “Orang yang aku maksud itu ada di sini.” Kataku sebelum berjalan menuju kak Kyoya. “Maaf telah membuat kak Kyoya harus kemari.”

“Apakah maksudmu . . . . orang itu adalah . . . . “ Entah kenapa ia tak melanjutkan kalimatnya ketika menyadari siapa yang aku maksud. Aku yakin, dia mengerti siapa yang aku maksud.

Kak Kyoya tersenyum lembut kearahku. “Tak masalah. Apa kak Mori menjagamu dengan baik ?” Tanyanya. Aku mengangguk pelan. “Ayo kita pulang, orang tua kita menunggu.”

Lagi-lagi aku menganggukkan kepalaku. Aku membungkukkan badan ke arah kak Mori sebelum pergi dan berjalan mendahului kak Kyoya. Mencoba menghindari pandangan mereka yang tentunya mengerti apa yang sebenarnya sedang aku rasakan. Kak Mori hanya menatapku tanpa mengatakan atau melakukan apa-apa dan aku hanya bisa menundukkan kepalaku.

(The end~this one)
Jogja, May 14 2011 at 4 am

0 komentar: