5
Him
(Light’s View)
“Akhirnya kau datang juga !!” Yuna melambaikan tangannya. Fuyumi tersenyum ke arahnya temannya itu. Namun, langkahnya tiba-tiba berhenti ketika melihat seseoerang yang duduk bersama Yuna. Ya, ada Ryuichi. Kulihat ada semburat warna pink di pipinya.
Dengan sigap, Yuna menarik Fuyumi ke meja yang telah dia pesan. Fuyumi langsung gugup setelah duduk di samping Ryuichi. Berkali-kali ia mengusap pita yang ia pakai tanpa mengucapkan apapun.
“Lebih baik kau tenang daripada terlihat aneh, Fuyumi. Lagipula, mengusap pita yang kau pakai malah akan memperpendek kesempatanmu memohon sesuatu.” Bisikku. Fuyumi menoleh ke arahku sebentar kemudian ia tersenyum.
“Aku hampir lupa, ini kadonya.” Gadis itu meletakkan sebuah kotak ukuran kecil dengan pita biru diatasnya.
Senyum Yuna mengembang lebar. “Terima kasih, Fuyumi !!” Serunya, ia membuka kotak itu. “Ini ‘kan gantungan kunci yang dulu aku inginkan ! Terima kasih !!”
“Karena ini malam hari maka ibuku menyuruh kak Ryuichi untuk mengawal kita. Lagipula tempat ini tidak jauh dari tempat kerja sampingannya, kok.” Ujar Yuna.
Kulihat Ryuichi cemberut. “Jadi kau anggap aku ini pengawalmu ? Kalau saja bukan karena bibi yang menyuruh, lebih baik aku pulang saja.” Ia segera meminum jusnya.
Kali ini Yuna merangkulnya. “Aduh kak, kenapa akhir-akhir ini kau sensitif sekali ? Aku hanya bercanda saja.”
Aku melirik Fuyumi yang sepertinya iri dengan keakraban itu. Mungkin itulah yang disebut dengan cemburu. Sepertinya Ryuichi menyadari hal itu, ia memberikan daftar menu pada Fuyumi. “Nah, apa yang ingin kau pesan ?”
Malam itu Fuyumi bisa tertawa lepas bersama Yuna serta Ryuichi, sepertinya malam itu merupakan salah satu malam yang istimewa untuknya. Sesekali, Fuyumi melirik ke arah Ryuichi yang lebih sering bercanda dengan adik sepupunya itu. Hanya melirik, ia tak berani melakukan apapun.
Ketika tiba saatnya pulang, Yuna meminta Ryuichi untuk mengantar Fuyumi pulang sementara ia sendiri pulang bersama pacarnya (yang menjemputnya). Pipi Fuyumi semakin merah dan ia berusaha keras menyembunyikannya.
“Apa rumahmu jauh ?” Tanya Ryuichi, ia sendiri berusaha keras menyembunyikan wajahnya yang lelah.
Fuyumi menganggukkan kepala. “Lumayan, sih. Kalau kakak mau pulang, pulang saja. Aku tak masalah pulang sendiri, jalanan masih ramai.”
“Bahaya kalau kau pulang sendirian, kau perempuan. Lagipula, aku bisa dimarahi Yuna kalau menelantarkanmu.” Buru-buru Ryuichi meraih ranselnya yang kecil. “Ayo aku antar.”
“I-iya.” Fuyumi mengikuti Ryuichi yang berjalan terlebih dulu, sekilas aku melihat senyum tipisnya serta senyum lebar Yuna yang melihat keduanya.
“Apa menurutmu aku benar ?” Tanya Yuna pada kekasihnya. “Berusaha mendekatkan keduanya. Aku ingin melihat Fuyumi yang kembali tersenyum setelah dia patah hati.”
“Menurutku kau benar, lagipula kak Ryuichi juga masih sendiri, ‘kan ?” Tanya kekasih Yuna sembari mengambil helmnya.
“Ayo pulang.”
“Hu’um !”
“Ada apa ? Ryuichi sudah menunggumu.”
“Rai, katakan kalau aku sedang bermimpi dan akan bangun beberapa jam lagi.” Bisik Fuyumi.
“Hah ? Apa maksudmu ?” Aku tak mengerti dengan perkataannya.
Gadis itu menoleh ke arahku. “Ini semua hanya sebuah mimpi, ‘kan ? Ini tak mungkin nyata.”
“Akira ? Apa yang kau tunggu ? Rumahmu arah sini, ‘kan ?” Seru Ryuichi.
“I-iya !” Buru-buru Fuyumi berlari ke arahnya. “Um . . . . kak ? Bisakah kakak memanggilku Fuyumi saja seperti Yuna biasa memanggil ?”
“Eh ? Baiklah, Fuyumi. Kau juga boleh memanggilku kak Ryuichi.” Ujar kak Sakurai eh kak Ryuichi sembari tersenyum. “Seperti Yuna biasa memanggil.”
Keduanya tertawa bersama-sama.
Melihat wajah Fuyumi yang berseri-seri dan bagaimana dia bisa tertawa lepas membuatku semakin yakin bahwa gadis itu tertarik pada Ryuichi. Namun, ia tak pernah mengucapkan permintaan untuk menjadikan Ryuichi kekasihnya.
“Terima kasih karena telah mengantarku, kak.”
“Sama-sama,” Ryuichi tersenyum. “Aku pulang dulu.”
Gadis itu terus memperhatikan Ryuichi yang berjalan meninggalkan rumahnya. “Aku harap ia sampai di rumahnya dengan selamat.” Gumam Fuyumi menyentuh pita pink-nya.
“Sepertinya ada yang mulai merasakan sesuatu yang berbeda,” Kataku sembari tersenyum ke arah Fuyumi yang terlihat malu-malu.
“Tidak, itu hanya tebakanmu saja. Sudah ah, aku mau tidur dulu. La, la, la . . “
Aku pandang bintang malam itu, semua bersinar terang – terutama planet-planet. Dari kamar Fuyumi, aku bisa melihatnya dengan jelas.
“Kak . . . Takeru . . . “
Kali ini aku menoleh ke arah Fuyumi. Gadis itu mengigau. Ia beberapa kali menyebut nama Takeru. Rupanya, ia masih menyimpan perasaan padanya. Ia menutupi perasannya yang sebenarnya. Tak lama kemudian, Fuyumi membuka mata. “Lagi-lagi dia datang.....”
“Kau kenapa ?”
Fuyumi kaget melihatku. “Rai, kenapa kau di sini ??”
“Menjagamu. Selama ini aku di sini, tetapi kau tak pernah menyadarinya.” Kataku. “Kebetulan saja malam ini kau bisa melihatku.”
“Apa itu berarti kau juga melihatku ganti baju ?”
“Untuk apa aku melihatmu ganti baju ? Ada hal lain yang harus aku lakukan.” Aku duduk mendekatinya. “Wajahmu aneh, kau mimpi buruk ?”
Ia hanya menghela napas panjang kemudian menarik selimutnya kembali. “Pergilah, aku ingin sendiri.” Ujarnya. Samar-samar aku mendengar isak tangisnya. “Kenapa harus dia ? Seandainya saja aku tak pernah mengenalnya.....” Tiba-tiba ia mengambil pita pink-nya. “Jika aku meminta agar tak pernah mengenal seseorang, apakah bisa ?”
Buru-buru aku mencegahnya. “Kau gila ! Apa kau sudah memikirkan baik-baik permintaanmu itu ?” Aku mencoba merebut pita itu.
“Sudah ! Aku tak ingin hidup seperti sekarang ! Sangat sulit melihat kak Takeru bersama orang lain ! Jika aku terus memikirkannya, dadaku terasa sakit !” Sahut Fuyumi. “Bukankah sebaiknya aku tak pernah mengenalnya ?”
“Tidak pernah mengenalnya berarti juga tidak pernah mengenal teman-temanmu yang lain, apa kau mau seperti itu ? Bukankah sebenarnya kehidupan kalian saling terkait ?” Aku masih berusaha melepaskan pita pink dari tangannya.”Pikirkanlah lagi permintaanmu.”
“Aku ingin melupakan . . . . . . “ Fuyumi mulai mengucapkan permintaannya, aku semakin berusaha keras untuk melepaskan pita pink-nya. “Perasaan yang pernah aku miliki terhadap kak Takeru,” Bersamaan dengan itu, pita pink-nya berhasil aku tarik.
Permintaannya dibatalkan.
“Kenapa kau malah merebutnya ? Bukankah aku berhak meminta apapun ?” Tanya Fuyumi marah. “Aku sudah menukarnya dengan kesempatan hidupku !”
“Aku juga bertugas menyeleksi setiap permintaan yang kau ajukan. Aku lupa mengatakan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan perasaan, kematian, kehidupan, tidak bisa aku penuhi. Jadi, kau tak bisa mengharap seseorang menyukaimu atau kau melupakan dia selamanya. Perasaan itu akan tetap ada sampai kau mati.” Kataku. Aku baru sadar jika Fuyumi masih labil.
“Tapi itu malah mempercepat kematianku ! Aku tak ingin menghabiskan hidupku dengan mengingat semua itu !” Ujar Fuyumi mulai histeris.
Aku memegang tangannya erat-erat. “Hidup dan matimu bukan kau yang menentukan ! Sudah ada yang menentukan itu semua ! Perasaan yang pernah kau rasakan itu merupakan salah satu bagian dari sejarah hidup yang tak mungkin kau hapus.”
“Tapi aku . . . . . . “ Tiba-tiba ia menyandarkan kepalanya di punggungku dan menangis. “Aku tak ingin teringat tentang perasaanku pada kak Takeru.”
“Mungkin kau takkan bisa melupakannya tetapi kau akan menemukan orang yang kau cari.” Aku memejamkan mataku dan melihat bayangan seseorang yang akan selalu bersama Fuyumi. Ya, dialah orangnya. Meski mungkin tak akan pernah mengatakan yang sebenarnya, dialah yang akan di dekat Fuyumi sebelum masa operasi. Aku tersenyum ketika mengetahui siapa orangnya.
Lama-lama terasa berat. Tak kudengar lagi suara tangis Fuyumi. “Fuyumi ?” Aku memanggilnya. Ia tak menjawabnya. Pelan, aku melihat ke arahnya. Dia telah memejamkan matanya. Kembali tidur.
Keesokannya :
“Bagaimana hasil pemeriksaannya ?” Tanyaku setelah ia keluar dari ruang pemeriksaan.
“Bagus.” Hanya itu yang Fuyumi katakan. “Aku masih punya pita ini, berarti aku masih bisa meminta sesuatu.”
Brakk !!
“Ah maaf, saya tak sengaja.”
“Tidak apa-apa.”
Fuyumi langsung menoleh ke sumber suara. “Kak Ryuichi ?” Tanyanya heran, buru-buru ia membantu Ryuichi yang saat itu membereskan dokumen milik seorang perawat. “Kenapa kakak ada di sini ?”
“Ah, tidak apa-apa. Hanya pemeriksaan rutin.” Jawab Ryuichi. “Kau sendiri ?”
“Pemeriksaan rutin juga.” Jawab Fuyumi.
Ryuichi – entah kenapa – tersenyum. “Begitu, ya ? Apa kau masih ada pemeriksaan lain ?” Tanyanya. Fuyumi menggelengkan kepala. “Setelah ini kau mau ke mana ?”
“Entahlah, mungkin jalan-jalan sebentar. Aku mau membantu Natsumi membuat pemflet untuk ‘Sparkle’ dan kami masih kekurangan ide.”
“Bolehkah aku ikut ?” Tanya Ryuichi.
“Eh ? Baiklah.”
Ryuichi benar-benar berjalan bersama Fuyumi. Gadis itu terus menerus menoleh ke arahku. Dia bingung harus bagaimana. Tangannya gemetar sementara sesekali ia memegang dadanya.
“Apa kau sakit ?” Tanya Ryuichi.
“Ti-tidak, kak. Oh iya, apa kakak ingin minum ? Aku mau beli minum dulu.” Tanya Fuyumi gugup. Laki-laki itu mengangguk pelan. Buru-buru Fuyumi ke mesin penjual minuman.
Aku mengikutinya. “Kenapa tanganmu bergetar begitu ? Kau gugup.”
“Ti-tidak, aku tak apa-apa.” Jawab Fuyumi. “Apa kak Ryuichi masih menunggu di tempat yang sama ?” Tanyanya sembari memilih minuman. Aku tak langsung menjawab. “Dia masih di sana atau tidak ? Beritahu aku !”
“Kenapa kau malah seperti anak kecil ? Lihatlah sendiri.” Kataku melenggang pergi.
“Tapi, bukankah kau tadi menanyakan mengapa aku gugup ? Aku gugup karena . . . . kak Ryuichi.”
Aku hanya tersenyum melihat ekspresi wajah gadis itu. “Kau bisa mengatasinya, kok. Jangan khawatir.”
Kuperhatikan Ryuichi yang duduk di bangku sebuah taman dan memandang sebuah kertas yang ia buka. Ia menghela napas panjang kemudian mendongak. Memandang langit biru.
“Sampai kapan aku bisa melihatnya ?” Gumam Ryuichi yang tanpa sadar meletakkan tangannya ke dada. Tak lama kemudian datang Wise, ia hanya menganggukkan kepalanya saat melihatku.
Ryuichi melirik ke arah Wise kemudian kembali menatap langit. “Melihatmu semakin membuatku yakin kalau aku akan segera mati.” Gumamnya. “Aku tidak menarik pitaku dan hanya menikmati hari ini, kenapa kau muncul ?”
“Aku hanya ingin melihat dirimu.” Sahut Wise. “Lalu apa yang dokter katakan padamu ?”
“Kurasa kau tahu jawabannya. Sakitku sudah stadium akhir, sebentar lagi aku akan mati.” Ia melipat kembali suratnya.
“Setelah itu, tugasmu selesai.”
“Kenapa kau sesinis itu ?”
Laki-laki itu tersenyum sinis. “Bagaimana aku tidak sinis dengan hidupku ? Tinggal selangkah lagi aku lulus ! Tinggal sedikit lagi aku bisa mencapai posisi yang lebih tinggi dan aku harus menyerah karena sakit ini.” Ia meremas kertas yang dibawanya. “Tidak, aku tak boleh menyerah sedikitpun. Bulan depan, aku pasti bisa ikut wisuda.”
“Kau tahu waktumu tidak . . . . . “
“Bukankah kau sendiri pernah mengatakan jika hidup dan matiku tidak tergantung dokter ? Kau pernah mengatakan jika kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.” Ryuichi tertawa pelan. “Jadi, jangan membuatku semakin sinis.”
“Aku tidak bermaksud membuatmu menjadi lebih sinis, aku hanya mengingatkanmu saja.” Kata Wise. “Karena ada orang lain yang lebih pesimis darimu.”
“Kak Ryuichi ?” Terdengar suara Fuyumi yang memanggilnya.
“Dan sebelum waktunya tiba, izinkan aku menikmati kehidupanku. Tolong datang hanya ketika aku membutuhkanmu saja.” Pelan, Ryuichi mengeluarkan sebuah pita berwarna coklat dan menariknya. Wise tak bisa menolak karena memang itu perjanjiannya. Ia langsung pergi.
“Ini minuman kakak, aku sengaja pilih teh hijau karena itu minuman sehat.” Ujar Fuyumi. Keduanya duduk di sebuah kursi di taman. “Aah, langit hari ini sangat cerah. Benar-benar biru !!” Serunya bersemangat. Tiba-tiba ia terdiam dan menahan napas dan memegang dadanya. Ryuichi memperhatikan hal itu kemudian memegang lengan gadis itu. “Tidak apa-apa, aku tak apa-apa.” Sahut Fuyumi. “Aku hanya terlalu bersemangat saja.”
“Oh, baiklah.” Ryuichi kembali menikmati langit yang biru itu. “Tahukah kamu ? Burung-burung itu beruntung.”
Eh ? Aku dan Fuyumi menoleh ke arahnya.
“Bisa terbang dan melihat dunia yang sangat luas.” Tiba-tiba ia mengarahkan tangannya ke arah burung itu. “Tapi dia bisa mati kapan saja karena pemburu.” Entah kenapa ia tersenyum tipis.
“Kenapa kakak tiba-tiba membicarakan tentang kematian ? Kakak tidak sedang sakit parah, ‘kan ?” Tanya Fuyumi heran. Ryuichi tertawa sebentar kemudian menggeleng. “Karena aku sedang tak ingin membicarakan hal itu.” Ia memejamkan matanya sebentar sebelum meminum teh hijaunya. “Jadi, tolong jangan bicarakan hal itu, ya ?”
Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing dan menikmati teh hijau mereka. Aku yang mengawasi mereka dari jauh hanya bisa tersenyum. Aku merasa mereka berdua begitu mirip. Sama-sama mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah langit yang biru. Mereka serasi – setidaknya itu menurutku. Akan sangat menyenangkan melihat keduanya mengucap janji untuk selalu bersama selamanya. Seandainya saja mereka bisa terus bersama-sama, seandainya aku bisa berbuat sesuatu untuk mereka. Aku tak tega menghancurkan kebahagiaan yang mungkin akan terjadi itu.
Ah, apa yang aku pikirkan ? Mengapa aku tiba-tiba berpikir seperti tadi ? Seharusnya aku mengerjakan tugasku tanpa harus memikirkan apapun. Aku tak boleh seperti tadi.
“Mereka pasangan yang serasi.”
Wise ? Sejak kapan di ada disampingku ? Baiklah, apa dia punya kebiasaan baru ? Muncul tiba-tiba ??
“Lalu ?” Tanyaku ingin tahu.
“Entah kenapa aku suka melihat mereka berdua seperti itu.” Jawab Wise. “Ini bukan pertama kalinya aku bertugas dan melihat hal semacam ini. Namun, semua harus berakhir tragis kali ini.”
“Apa maksudmu ?”
“Bukankah kau tahu akhir kisah mereka ? Jadi aku takkan memberitahumu.” Sahut Wise.
“Bisakah kita membuat mereka terus bersama ? Maksudku, agar mereka jadi sepasang kekasih atau malah menikah sekalian ?”
Ia langsung menatap tajam ke arahku. “Tugas kita tidak sampai ke situ, Rai. Jika memang mereka memiliki perasaan yang sama, pastinya hal itu akan terjadi. Saranku, jangan kau lakukan apa yang ada dipikiranmu saat ini.”
Aku tak menjawab apa-apa. Hanya bisa terdiam. Wise benar tentang hal itu. Jika mereka memiliki perasaan yang sama, pastinya apa yang aku bayangkan itu akan menjadi kenyataan. Namun, apa yang kulihat tidak seperti itu.
Kembali aku memperhatikan Ryuichi dan Fuyumi yang sedang sama-sama tertawa. Untuk pertama kalinya, aku melihat Fuyumi tersenyum dan tertawa lepas tanpa beban. Keduanya sama sekali tak menunjukkan kesakitan mereka. Mereka malah tampak bahagia. Aku tak ingin tahu, sampai kapan kebahagiaan itu akan terus ada.
Him
(Light’s View)
“Akhirnya kau datang juga !!” Yuna melambaikan tangannya. Fuyumi tersenyum ke arahnya temannya itu. Namun, langkahnya tiba-tiba berhenti ketika melihat seseoerang yang duduk bersama Yuna. Ya, ada Ryuichi. Kulihat ada semburat warna pink di pipinya.
Dengan sigap, Yuna menarik Fuyumi ke meja yang telah dia pesan. Fuyumi langsung gugup setelah duduk di samping Ryuichi. Berkali-kali ia mengusap pita yang ia pakai tanpa mengucapkan apapun.
“Lebih baik kau tenang daripada terlihat aneh, Fuyumi. Lagipula, mengusap pita yang kau pakai malah akan memperpendek kesempatanmu memohon sesuatu.” Bisikku. Fuyumi menoleh ke arahku sebentar kemudian ia tersenyum.
“Aku hampir lupa, ini kadonya.” Gadis itu meletakkan sebuah kotak ukuran kecil dengan pita biru diatasnya.
Senyum Yuna mengembang lebar. “Terima kasih, Fuyumi !!” Serunya, ia membuka kotak itu. “Ini ‘kan gantungan kunci yang dulu aku inginkan ! Terima kasih !!”
“Karena ini malam hari maka ibuku menyuruh kak Ryuichi untuk mengawal kita. Lagipula tempat ini tidak jauh dari tempat kerja sampingannya, kok.” Ujar Yuna.
Kulihat Ryuichi cemberut. “Jadi kau anggap aku ini pengawalmu ? Kalau saja bukan karena bibi yang menyuruh, lebih baik aku pulang saja.” Ia segera meminum jusnya.
Kali ini Yuna merangkulnya. “Aduh kak, kenapa akhir-akhir ini kau sensitif sekali ? Aku hanya bercanda saja.”
Aku melirik Fuyumi yang sepertinya iri dengan keakraban itu. Mungkin itulah yang disebut dengan cemburu. Sepertinya Ryuichi menyadari hal itu, ia memberikan daftar menu pada Fuyumi. “Nah, apa yang ingin kau pesan ?”
Malam itu Fuyumi bisa tertawa lepas bersama Yuna serta Ryuichi, sepertinya malam itu merupakan salah satu malam yang istimewa untuknya. Sesekali, Fuyumi melirik ke arah Ryuichi yang lebih sering bercanda dengan adik sepupunya itu. Hanya melirik, ia tak berani melakukan apapun.
Ketika tiba saatnya pulang, Yuna meminta Ryuichi untuk mengantar Fuyumi pulang sementara ia sendiri pulang bersama pacarnya (yang menjemputnya). Pipi Fuyumi semakin merah dan ia berusaha keras menyembunyikannya.
“Apa rumahmu jauh ?” Tanya Ryuichi, ia sendiri berusaha keras menyembunyikan wajahnya yang lelah.
Fuyumi menganggukkan kepala. “Lumayan, sih. Kalau kakak mau pulang, pulang saja. Aku tak masalah pulang sendiri, jalanan masih ramai.”
“Bahaya kalau kau pulang sendirian, kau perempuan. Lagipula, aku bisa dimarahi Yuna kalau menelantarkanmu.” Buru-buru Ryuichi meraih ranselnya yang kecil. “Ayo aku antar.”
“I-iya.” Fuyumi mengikuti Ryuichi yang berjalan terlebih dulu, sekilas aku melihat senyum tipisnya serta senyum lebar Yuna yang melihat keduanya.
“Apa menurutmu aku benar ?” Tanya Yuna pada kekasihnya. “Berusaha mendekatkan keduanya. Aku ingin melihat Fuyumi yang kembali tersenyum setelah dia patah hati.”
“Menurutku kau benar, lagipula kak Ryuichi juga masih sendiri, ‘kan ?” Tanya kekasih Yuna sembari mengambil helmnya.
“Ayo pulang.”
“Hu’um !”
“Ada apa ? Ryuichi sudah menunggumu.”
“Rai, katakan kalau aku sedang bermimpi dan akan bangun beberapa jam lagi.” Bisik Fuyumi.
“Hah ? Apa maksudmu ?” Aku tak mengerti dengan perkataannya.
Gadis itu menoleh ke arahku. “Ini semua hanya sebuah mimpi, ‘kan ? Ini tak mungkin nyata.”
“Akira ? Apa yang kau tunggu ? Rumahmu arah sini, ‘kan ?” Seru Ryuichi.
“I-iya !” Buru-buru Fuyumi berlari ke arahnya. “Um . . . . kak ? Bisakah kakak memanggilku Fuyumi saja seperti Yuna biasa memanggil ?”
“Eh ? Baiklah, Fuyumi. Kau juga boleh memanggilku kak Ryuichi.” Ujar kak Sakurai eh kak Ryuichi sembari tersenyum. “Seperti Yuna biasa memanggil.”
Keduanya tertawa bersama-sama.
Melihat wajah Fuyumi yang berseri-seri dan bagaimana dia bisa tertawa lepas membuatku semakin yakin bahwa gadis itu tertarik pada Ryuichi. Namun, ia tak pernah mengucapkan permintaan untuk menjadikan Ryuichi kekasihnya.
“Terima kasih karena telah mengantarku, kak.”
“Sama-sama,” Ryuichi tersenyum. “Aku pulang dulu.”
Gadis itu terus memperhatikan Ryuichi yang berjalan meninggalkan rumahnya. “Aku harap ia sampai di rumahnya dengan selamat.” Gumam Fuyumi menyentuh pita pink-nya.
“Sepertinya ada yang mulai merasakan sesuatu yang berbeda,” Kataku sembari tersenyum ke arah Fuyumi yang terlihat malu-malu.
“Tidak, itu hanya tebakanmu saja. Sudah ah, aku mau tidur dulu. La, la, la . . “
Aku pandang bintang malam itu, semua bersinar terang – terutama planet-planet. Dari kamar Fuyumi, aku bisa melihatnya dengan jelas.
“Kak . . . Takeru . . . “
Kali ini aku menoleh ke arah Fuyumi. Gadis itu mengigau. Ia beberapa kali menyebut nama Takeru. Rupanya, ia masih menyimpan perasaan padanya. Ia menutupi perasannya yang sebenarnya. Tak lama kemudian, Fuyumi membuka mata. “Lagi-lagi dia datang.....”
“Kau kenapa ?”
Fuyumi kaget melihatku. “Rai, kenapa kau di sini ??”
“Menjagamu. Selama ini aku di sini, tetapi kau tak pernah menyadarinya.” Kataku. “Kebetulan saja malam ini kau bisa melihatku.”
“Apa itu berarti kau juga melihatku ganti baju ?”
“Untuk apa aku melihatmu ganti baju ? Ada hal lain yang harus aku lakukan.” Aku duduk mendekatinya. “Wajahmu aneh, kau mimpi buruk ?”
Ia hanya menghela napas panjang kemudian menarik selimutnya kembali. “Pergilah, aku ingin sendiri.” Ujarnya. Samar-samar aku mendengar isak tangisnya. “Kenapa harus dia ? Seandainya saja aku tak pernah mengenalnya.....” Tiba-tiba ia mengambil pita pink-nya. “Jika aku meminta agar tak pernah mengenal seseorang, apakah bisa ?”
Buru-buru aku mencegahnya. “Kau gila ! Apa kau sudah memikirkan baik-baik permintaanmu itu ?” Aku mencoba merebut pita itu.
“Sudah ! Aku tak ingin hidup seperti sekarang ! Sangat sulit melihat kak Takeru bersama orang lain ! Jika aku terus memikirkannya, dadaku terasa sakit !” Sahut Fuyumi. “Bukankah sebaiknya aku tak pernah mengenalnya ?”
“Tidak pernah mengenalnya berarti juga tidak pernah mengenal teman-temanmu yang lain, apa kau mau seperti itu ? Bukankah sebenarnya kehidupan kalian saling terkait ?” Aku masih berusaha melepaskan pita pink dari tangannya.”Pikirkanlah lagi permintaanmu.”
“Aku ingin melupakan . . . . . . “ Fuyumi mulai mengucapkan permintaannya, aku semakin berusaha keras untuk melepaskan pita pink-nya. “Perasaan yang pernah aku miliki terhadap kak Takeru,” Bersamaan dengan itu, pita pink-nya berhasil aku tarik.
Permintaannya dibatalkan.
“Kenapa kau malah merebutnya ? Bukankah aku berhak meminta apapun ?” Tanya Fuyumi marah. “Aku sudah menukarnya dengan kesempatan hidupku !”
“Aku juga bertugas menyeleksi setiap permintaan yang kau ajukan. Aku lupa mengatakan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan perasaan, kematian, kehidupan, tidak bisa aku penuhi. Jadi, kau tak bisa mengharap seseorang menyukaimu atau kau melupakan dia selamanya. Perasaan itu akan tetap ada sampai kau mati.” Kataku. Aku baru sadar jika Fuyumi masih labil.
“Tapi itu malah mempercepat kematianku ! Aku tak ingin menghabiskan hidupku dengan mengingat semua itu !” Ujar Fuyumi mulai histeris.
Aku memegang tangannya erat-erat. “Hidup dan matimu bukan kau yang menentukan ! Sudah ada yang menentukan itu semua ! Perasaan yang pernah kau rasakan itu merupakan salah satu bagian dari sejarah hidup yang tak mungkin kau hapus.”
“Tapi aku . . . . . . “ Tiba-tiba ia menyandarkan kepalanya di punggungku dan menangis. “Aku tak ingin teringat tentang perasaanku pada kak Takeru.”
“Mungkin kau takkan bisa melupakannya tetapi kau akan menemukan orang yang kau cari.” Aku memejamkan mataku dan melihat bayangan seseorang yang akan selalu bersama Fuyumi. Ya, dialah orangnya. Meski mungkin tak akan pernah mengatakan yang sebenarnya, dialah yang akan di dekat Fuyumi sebelum masa operasi. Aku tersenyum ketika mengetahui siapa orangnya.
Lama-lama terasa berat. Tak kudengar lagi suara tangis Fuyumi. “Fuyumi ?” Aku memanggilnya. Ia tak menjawabnya. Pelan, aku melihat ke arahnya. Dia telah memejamkan matanya. Kembali tidur.
Keesokannya :
“Bagaimana hasil pemeriksaannya ?” Tanyaku setelah ia keluar dari ruang pemeriksaan.
“Bagus.” Hanya itu yang Fuyumi katakan. “Aku masih punya pita ini, berarti aku masih bisa meminta sesuatu.”
Brakk !!
“Ah maaf, saya tak sengaja.”
“Tidak apa-apa.”
Fuyumi langsung menoleh ke sumber suara. “Kak Ryuichi ?” Tanyanya heran, buru-buru ia membantu Ryuichi yang saat itu membereskan dokumen milik seorang perawat. “Kenapa kakak ada di sini ?”
“Ah, tidak apa-apa. Hanya pemeriksaan rutin.” Jawab Ryuichi. “Kau sendiri ?”
“Pemeriksaan rutin juga.” Jawab Fuyumi.
Ryuichi – entah kenapa – tersenyum. “Begitu, ya ? Apa kau masih ada pemeriksaan lain ?” Tanyanya. Fuyumi menggelengkan kepala. “Setelah ini kau mau ke mana ?”
“Entahlah, mungkin jalan-jalan sebentar. Aku mau membantu Natsumi membuat pemflet untuk ‘Sparkle’ dan kami masih kekurangan ide.”
“Bolehkah aku ikut ?” Tanya Ryuichi.
“Eh ? Baiklah.”
Ryuichi benar-benar berjalan bersama Fuyumi. Gadis itu terus menerus menoleh ke arahku. Dia bingung harus bagaimana. Tangannya gemetar sementara sesekali ia memegang dadanya.
“Apa kau sakit ?” Tanya Ryuichi.
“Ti-tidak, kak. Oh iya, apa kakak ingin minum ? Aku mau beli minum dulu.” Tanya Fuyumi gugup. Laki-laki itu mengangguk pelan. Buru-buru Fuyumi ke mesin penjual minuman.
Aku mengikutinya. “Kenapa tanganmu bergetar begitu ? Kau gugup.”
“Ti-tidak, aku tak apa-apa.” Jawab Fuyumi. “Apa kak Ryuichi masih menunggu di tempat yang sama ?” Tanyanya sembari memilih minuman. Aku tak langsung menjawab. “Dia masih di sana atau tidak ? Beritahu aku !”
“Kenapa kau malah seperti anak kecil ? Lihatlah sendiri.” Kataku melenggang pergi.
“Tapi, bukankah kau tadi menanyakan mengapa aku gugup ? Aku gugup karena . . . . kak Ryuichi.”
Aku hanya tersenyum melihat ekspresi wajah gadis itu. “Kau bisa mengatasinya, kok. Jangan khawatir.”
Kuperhatikan Ryuichi yang duduk di bangku sebuah taman dan memandang sebuah kertas yang ia buka. Ia menghela napas panjang kemudian mendongak. Memandang langit biru.
“Sampai kapan aku bisa melihatnya ?” Gumam Ryuichi yang tanpa sadar meletakkan tangannya ke dada. Tak lama kemudian datang Wise, ia hanya menganggukkan kepalanya saat melihatku.
Ryuichi melirik ke arah Wise kemudian kembali menatap langit. “Melihatmu semakin membuatku yakin kalau aku akan segera mati.” Gumamnya. “Aku tidak menarik pitaku dan hanya menikmati hari ini, kenapa kau muncul ?”
“Aku hanya ingin melihat dirimu.” Sahut Wise. “Lalu apa yang dokter katakan padamu ?”
“Kurasa kau tahu jawabannya. Sakitku sudah stadium akhir, sebentar lagi aku akan mati.” Ia melipat kembali suratnya.
“Setelah itu, tugasmu selesai.”
“Kenapa kau sesinis itu ?”
Laki-laki itu tersenyum sinis. “Bagaimana aku tidak sinis dengan hidupku ? Tinggal selangkah lagi aku lulus ! Tinggal sedikit lagi aku bisa mencapai posisi yang lebih tinggi dan aku harus menyerah karena sakit ini.” Ia meremas kertas yang dibawanya. “Tidak, aku tak boleh menyerah sedikitpun. Bulan depan, aku pasti bisa ikut wisuda.”
“Kau tahu waktumu tidak . . . . . “
“Bukankah kau sendiri pernah mengatakan jika hidup dan matiku tidak tergantung dokter ? Kau pernah mengatakan jika kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.” Ryuichi tertawa pelan. “Jadi, jangan membuatku semakin sinis.”
“Aku tidak bermaksud membuatmu menjadi lebih sinis, aku hanya mengingatkanmu saja.” Kata Wise. “Karena ada orang lain yang lebih pesimis darimu.”
“Kak Ryuichi ?” Terdengar suara Fuyumi yang memanggilnya.
“Dan sebelum waktunya tiba, izinkan aku menikmati kehidupanku. Tolong datang hanya ketika aku membutuhkanmu saja.” Pelan, Ryuichi mengeluarkan sebuah pita berwarna coklat dan menariknya. Wise tak bisa menolak karena memang itu perjanjiannya. Ia langsung pergi.
“Ini minuman kakak, aku sengaja pilih teh hijau karena itu minuman sehat.” Ujar Fuyumi. Keduanya duduk di sebuah kursi di taman. “Aah, langit hari ini sangat cerah. Benar-benar biru !!” Serunya bersemangat. Tiba-tiba ia terdiam dan menahan napas dan memegang dadanya. Ryuichi memperhatikan hal itu kemudian memegang lengan gadis itu. “Tidak apa-apa, aku tak apa-apa.” Sahut Fuyumi. “Aku hanya terlalu bersemangat saja.”
“Oh, baiklah.” Ryuichi kembali menikmati langit yang biru itu. “Tahukah kamu ? Burung-burung itu beruntung.”
Eh ? Aku dan Fuyumi menoleh ke arahnya.
“Bisa terbang dan melihat dunia yang sangat luas.” Tiba-tiba ia mengarahkan tangannya ke arah burung itu. “Tapi dia bisa mati kapan saja karena pemburu.” Entah kenapa ia tersenyum tipis.
“Kenapa kakak tiba-tiba membicarakan tentang kematian ? Kakak tidak sedang sakit parah, ‘kan ?” Tanya Fuyumi heran. Ryuichi tertawa sebentar kemudian menggeleng. “Karena aku sedang tak ingin membicarakan hal itu.” Ia memejamkan matanya sebentar sebelum meminum teh hijaunya. “Jadi, tolong jangan bicarakan hal itu, ya ?”
Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing dan menikmati teh hijau mereka. Aku yang mengawasi mereka dari jauh hanya bisa tersenyum. Aku merasa mereka berdua begitu mirip. Sama-sama mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah langit yang biru. Mereka serasi – setidaknya itu menurutku. Akan sangat menyenangkan melihat keduanya mengucap janji untuk selalu bersama selamanya. Seandainya saja mereka bisa terus bersama-sama, seandainya aku bisa berbuat sesuatu untuk mereka. Aku tak tega menghancurkan kebahagiaan yang mungkin akan terjadi itu.
Ah, apa yang aku pikirkan ? Mengapa aku tiba-tiba berpikir seperti tadi ? Seharusnya aku mengerjakan tugasku tanpa harus memikirkan apapun. Aku tak boleh seperti tadi.
“Mereka pasangan yang serasi.”
Wise ? Sejak kapan di ada disampingku ? Baiklah, apa dia punya kebiasaan baru ? Muncul tiba-tiba ??
“Lalu ?” Tanyaku ingin tahu.
“Entah kenapa aku suka melihat mereka berdua seperti itu.” Jawab Wise. “Ini bukan pertama kalinya aku bertugas dan melihat hal semacam ini. Namun, semua harus berakhir tragis kali ini.”
“Apa maksudmu ?”
“Bukankah kau tahu akhir kisah mereka ? Jadi aku takkan memberitahumu.” Sahut Wise.
“Bisakah kita membuat mereka terus bersama ? Maksudku, agar mereka jadi sepasang kekasih atau malah menikah sekalian ?”
Ia langsung menatap tajam ke arahku. “Tugas kita tidak sampai ke situ, Rai. Jika memang mereka memiliki perasaan yang sama, pastinya hal itu akan terjadi. Saranku, jangan kau lakukan apa yang ada dipikiranmu saat ini.”
Aku tak menjawab apa-apa. Hanya bisa terdiam. Wise benar tentang hal itu. Jika mereka memiliki perasaan yang sama, pastinya apa yang aku bayangkan itu akan menjadi kenyataan. Namun, apa yang kulihat tidak seperti itu.
Kembali aku memperhatikan Ryuichi dan Fuyumi yang sedang sama-sama tertawa. Untuk pertama kalinya, aku melihat Fuyumi tersenyum dan tertawa lepas tanpa beban. Keduanya sama sekali tak menunjukkan kesakitan mereka. Mereka malah tampak bahagia. Aku tak ingin tahu, sampai kapan kebahagiaan itu akan terus ada.




0 komentar:
Poskan Komentar