THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Selasa, 19 April 2011

BEAT OF HEART #4


4   Her Smile  (Rai’s View)  
Kami tiba di rumah sakit. Pemandangan yang biasa aku lihat kembali terlihat, semua sibuk dengan Fuyumi. Semua sibuk menyelamatkan gadis itu, begitu juga dengan laki-laki yang menolong Fuyumi. Ia menelepon ibu Fuyumi tetapi tidak diangkat juga.
“Keluarga nona Akira ?” Tanya perawat.
Laki-laki yang mirip Takeru itu menoleh. “Sa-saya temannya, bagaimana keadaan dia ?”
“Tidak apa-apa, dia hanya pingsan.” Ujar perawat. “Di mana keluarganya ?”
Ia tampak kebingungan. “Saya mencoba menghubungi keluarganya tetapi teleponnya . . . “
“Kak Ryuichi, kenapa kakak meneleponku ?” Tanya seseorang.
Belum sempat ia menjawab, Fuyumi keluar diikuti perawat yang sebenarnya melarang dia keluar. “Aku tak apa-apa, aku hanya kelelahan. Biarkan aku pulang, aku tak mau membuat ibuku cemas.” Ujar Fuyumi.
“Fuyumi, kau kenapa ?”
Fuyumi menoleh. “Ah Yuna, terima kasih sudah menolongku.” Ia menatapku, seolah ingin mengatakan kalau dia masih kuat. “Aku hanya . . . “
“Ini barang-barangmu.” Ryuichi menyodorkan barang-barang Fuyumi. “Sebenarnya, aku yang menolongmu tadi.”
Gadis itu melongo.
Yuna tersenyum kemudian berdiri diantara keduanya. “Perkenalkan, ini sepupuku. Namanya Ryuichi Sakurai, dialah yang menolongmu tadi. Kak Ryuichi, ini Fuyumi Akira. Sahabatku.”
Keduanya bersalaman dengan malu-malu. Aku baru sadar jika Wise berdiri tak jauh dari Ryuichi. Ia hanya tersenyum tipis ketika melihatku.
Aku menemui Wise pada malam harinya. Ia terlihat cuek-cuek saja ketika melihatku. Aku langsung duduk didekatnya. Mencoba mencari tahu tentang Ryuichi.
“Biar kutebak, kau datang kemari karena ingin tahu tentang Ryuichi Sakurai.” Kata Wise. Belum sempat aku menjawab, dia sudah mengatakan sesuatu lagi. “Sama seperti Fuyumi, waktu hidupnya tinggal sedikit.”
“Apa pertemuan kita tadi suatu kebetulan ? Mengapa kau sepertinya tidak kaget melihat pertemuan mereka berdua ?” Tanyaku lagi.
Wise melirikku sebentar sebelum ia melihat ke arah bintang-bintang. “Kenapa aku harus kaget ? Kita bertemu saat bertugas, bukankah itu sudah biasa ?” Tanyanya.
“Iya juga, tetapi aku agak bertanya-tanya dengan kondisi Ryuichi. Bagaimana mungkin kondisinya sama dengan Fuyumi sementara dia baik-baik saja ?” Aku masih penasaran.
“Ternyata kau memang harus banyak belajar, Light.” Tiba-tiba Wise berdiri. “Perlukah kutunjukkan padamu keadaannya yang sebenarnya ?”
“Apa maksudmu ?”
Ia menjentikan jarinya.Tiba-tiba kami telah berpindah ruangan. Sebuah kamar yang cukup sempit. Kulihat Ryuichi yang terbaring di tempat tidurnya, disamping tempat tidur itu ada beberapa jenis obat yang bertebaran. Ia memejamkan matanya sembari menggenggam sebuah kapsul.
“Dia menderita suatu penyakit serius, stadiumnya sudah tinggi. Waktu hidupnya tinggal sebentar lagi.” Kata Wise. “Dia menolak dirawat di rumah sakit dan merahasiakan sakitnya pada siapapun. Dia ingin memastikan semua orang tidak mengkhawatirkan dirinya.”
Tiba-tiba Ryuichi membuka matanya, ia hanya tersenyum tipis kemudian memakan obat itu dan menoleh ke arah Wise.
“Ternyata kau masih di sini, Wise.” Ujarnya.
“Aku baru akan pergi ketika tugasku selesai.” Kata Wise. “Kau hampir menghabiskan kesempatan memintamu, apakah masih ada permintaan yang ingin kau sampaikan ?”
Ryuichi hanya menggelengkan kepalanya. “Kurasa belum saatnya aku menyampaikan permintaan terakhirku.” Ia kembali memejamkan matanya. “Aku masih punya waktu beberapa bulan lagi.”
“Hidup mati seseorang bukan di tangan dokter, sudah ada yang mengaturnya.” Kata Wise. “Jadi kau tak usah berpikir seperti tadi.”
Ia tak menjawab lagi dan membiarkan Wise berjalan kembali padaku. “Dia selalu seperti itu tiap malam.”
“Tapi kenapa dia tampak lemah ? Bukankah kemarin dia . . . “ Aku teringat bagaimana Ryuichi bersungguh-sungguh menolong Fuyumi dan memang, ia tak tampak sakit dari luar – hanya pucat. “Tampak tidak sakit.”
“Karena dia bisa menyembunyikannya dengan baik. Ryuichi tak membiarkan siapapun tahu tentang penyakitnya.” Wise menoleh ke arahku. “Sama seperti Fuyumi yang juga tak ingin terlihat menderita.”
Aku hanya menghela napas panjang. “Aku tak mengerti dengan mereka, mengapa mereka tak ingin terlihat menderita di depan orang lain ? Paling tidak di depan orang-orang terdekat mereka ?”
“Menurutmu, kenapa mereka melakukan itu ?” Tanya Wise balik. Aku hanya mengangkat bahu. “Kau menanyakan itu pasti karena selama ini manusia yang kau tangani tidak seperti Fuyumi atau Ryuichi.”
“Yaaah, memang begitulah.” Memang, selama ini manusia yang aku awasi cenderung membiarkan dirinya terlihat sakit didepan orang yang menurutnya dekat tetapi tidak dengan Fuyumi. Aku selalu merasa Fuyumi tak ingin terlihat lemah di depan siapapun dan tidak ingin orang lain terlalu mengkhawatirkan dirinya.
“Kau memang harus banyak belajar, Light. Usiamu masih sangat muda.” Wise melihat jamnya.
“Kau selalu menyuruhku untuk belajar, tetapi kau tak pernah menunjukkan apa saja yang harus aku pelajari ! Bagaimana aku akan belajar tentang itu semua ?” Aku protes.
Kali ini Wise menoleh ke arahku. “Apa selama ini kau tak pernah belajar tentang apa yang kau lihat di kehidupan manusia yang kau awasi ? Kau tak pernah mempelajari tentang pelajaran yang ada di kehidupan yang kau lihat ?” Tanyanya. “Jika memang kau hanya menjalani tugasmu itu tanpa pernah mempelajari sesuatu, aku maklum kenapa kau menanyakan hal seperti tadi.”
“Tapi itu . . . “ Aku tak bisa meneruskan kata-kataku dan hanya bisa puas dengan menghilangnya Wise. Dia benar, kehidupan manusia yang aku awasi memang memberi banyak sekali pelajaran berharga. Terlalu banyak pelajaran, tetapi juga menimbulkan terlalu banyak pertanyaan hingga aku hanya bisa diam saja dan tak mempermasalahkannya.
Beberapa saat kemudian ;
“CD ! CD !” Seru Fuyumi senang. Hari ini ia ingin sekali membeli CD dan ia benar-benar melakukannya, pergi ke toko CD.
“Hari ini aku mau membeli CD Inoran saja !”
“Apa menariknya CD itu ?” Tanyaku ingin tahu.
Fuyumi memegang sebuah CD berwarna biru. “Musiknya enak didengar.” Jawabnya singkat. “Memangnya kau tak pernah mendengarkan musik ?”
Aku mengangkat bahu. Lagi.
“Aaah, apa sih yang pernah kau lakukan ? Kenapa semua yang tanyakan tidak pernah kau lakukan ?” Gumam Fuyumi.
Tiba-tiba ia berhenti, tubuhnya seperti terpaku. Aku perhatikan dia, ternyata Ryuichi berdiri tak jauh darinya.
“Akira ?” Tanya Ryuichi. “Fuyumi Akira, ‘kan ?”
“I-iya, kak Sakurai.” Sahut Fuyumi yang entah kenapa langsung jadi gugup.
“Apa yang kau beli ?” Ryuichi memperhatikan CD yang dibawa Fuyumi. “Inoran,”
Tiba-tiba seorang laki-laki mendekati Ryuichi. “Ryuichi, aku butuh bantuanmu memilah CD baru.”
“Oke. Akira, aku harus kembali bekerja.”
“I-iya, kak.” Lagi-lagi Fuyumi hanya bisa menjawab seperti itu. Ia terlihat aneh. Ada semburat warna pink di pipinya. Ia tersenyum. “Ayo Raito, aku mau membayar CD-nya.”
Gadis itu membayar CD yang ia beli, tetapi sesekali mencuri pandang ke arah Ryuichi. Aku tergoda untuk bertanya padanya. “Apa kau tertarik padanya ? Dia lebih menarik daripada Takeru.” Bisikku. Pipi Fuyumi semakin merah. Buru-buru ia keluar dari toko CD itu dan lagi-lagi menoleh ke arah Ryuichi sebelum akhirnya laki-laki itu menghilang bersama temannya.
Fuyumi’s View
Pipiku terasa panas ketika Rai membisikkan sesuatu tentang kak Sakurai. Sejak kak Sakurai menolongku beberapa hari yang lalu, aku agak malu jika harus bertemu dengannya lagi. Aku sama sekali tak mengira jika kami akan bertemu lagi di toko CD.
Sekilas, penampilan kak Sakurai mirip kak Takeru. Namun, kak Sakurai tidak memakai kacamata. Kesan yang aku dapat dari kak Sakurai berbeda dengan kesan yang aku dapat jika bertemu kak Takeru. Aaaah, apa yang aku pikirkan ?? Dia hanya sepupu jauh Yuna, aku tak boleh berpikir lebih dari itu !!
“Kenapa pipimu selalu memerah jika aku mengatakan sesuatu tentang Ryuichi Sakurai ?” Tanya Rai. Lagi-lagi pipiku terasa panas. “Tuh ‘kan, pipimu memerah lagi. Kau sudah menemukan pengganti Takeru rupanya.”
“Bukan ! Bukan begitu ! Aku hanya . . . “ Aku tak tahu harus mengatakan apalagi. Aku bahkan tak tahu apa yang sedang aku rasakan sekarang. Rai mendekatkan wajahnya padaku. “Apaan, sih ? Minggir sana !”
Beberapa orang yang berada disekitarku langsung menoleh. Aku hanya meringis saja. Mereka tak bisa melihat Rai – hanya aku yang bisa melihatnya. Dan sampai saat ini, pita pink yang Rai berikan masih terus aku pakai.
“Jangan dikira aku tak tahu apa yang sedang kau pikirkan sekarang.” Rai tersenyum padaku. “Kau masih punya pita pink ditanganmu, kenapa tak kau gunakan ?”
Aku pandangi pita pink yang terus aku pakai sejak aku keluar dari rumah sakit dan aku hanya tersenyum. Bolehkah aku meminta kebahagiaan untukku sendiri meski itu hanya sebentar ? Aku hanya tak ingin merebut kebahagiaan orang lain sementara aku sendiri bahagia.
Lagu ‘Sennenka’ milik Inoran mengalun dari ponselku. Aku segera mengambilnya dari saku. Yuna. Kenapa dia tiba-tiba menelepon ?
“Ya, dengan Fuyumi Akira.”
“Fuyumi, bisakah kau datang malam ini ? Aku ingin menraktirmu.” Kata Yuna.
Eh ?
“Kau bisa, ‘kan ?” Tanya Yuna lagi.
“Kenapa kau tiba-tiba menraktirku ?” Aku melihat jam tangan. Ini sudah malam.
“Apa kau lupa ini tanggal berapa ?” Tanya Yuna. Aku mencoba mengingat-ingat. “Ah, kau ini ! Ini ‘kan ulang tahunku !!”
Ulang tahun Yuna ? Bagaimana aku bisa melupakan hal itu ?? Aku belum membeli kado untuknya, aku bahkan belum menyiapkan apa-apa.
“Aku pasti akan ke sana.” Kataku. "Tempat biasanya, 'kan ?"
Bagaimana mungkin aku bisa melupakan ulang tahun sahabatku ? Ah, bodoh ! Aku juga tidak sempat membeli kado untuknya.
Entah sejak kapan Rai memandangku. Aku langsung mundur. “Ra-Rai, kamu kenapa ??”
“Kau sendiri kenapa ? Wajahmu berubah setelah menerima telepon.” Rai kembali berdiri tegak. “Kau masih memiliki pita pink itu untuk menolongmu.”
Aku pandang pita itu. “Apakah . . . jika aku meminta ini berarti kesempatan hidupku berkurang ?”
Rai tak menjawab, ia menghela napas panjang. “Semua sesuai perjanjian, kesempatan hidupmu hanya berkurang sesuai perjanjian kita. Tidak ada tambahan.”
“Rai, aku ingin memberikan sesuatu yang indah untuk Yuna.”

0 komentar: