THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Rabu, 09 Maret 2011

Untold Thank You

Sebenarnya banyak sekali orang2 yang sangat berjasa bagi saya hingga saya seperti sekarang. Begitu banyaknya hingga terkadang saya tidak tahu harus bagaimana mengucapkan "terima kasih". Apalagi saya adalah seorang yang pelupa. Saya pasti akan mengatakan 'terima kasih' pada mereka yang saya kenal baik dan bisa saya ingat dengan baik. Jika tidak, itu pasti bukan karena saya tidak ingin mengucapkannya tetapi karena saya lupa. Begitu parahnya 'lupa' yang ada pada saya sampai2 saya sering sekali lupa meletakkan barang atau lupa jalan, serta melupakan orang yang kurang saya kenal baik.

Dan itulah yang sedang terjadi pada saya sekarang.
Saya ingin mengucapkan terima kasih pada seseorang karena dialah orang pertama di tempat saya menuntut ilmu dulu yang memberi semangat kepada saya untuk meraih mimpi saya untuk serius belajar fotografi. Di saat semua orang yang saya anggap teman tak peduli dengan minat saya, dialah yang terus menyemangati saya untuk serius di bidang yang saya tekuni sekarang. 

Dan bagian terburuknya adalah, saya lupa siapa namanya dan bahkan seperti apa dia !

Saya hanya ingat kata2nya untuk menyemangati saya. Selama 3 tahun, saya berusaha keras agar bisa lulus kuliah dan tetap menekuni fotografi. Hanya saja menjelang semester akhir, saya tidak terlalu menekuninya lagi. Saya memilih menyelesaikan Tugas Akhir dan akhirnya wisuda.

Saya tidak tahu apakah 'kelupaan' saya ini berkaitan dengan kecelakaan yang pernah saya alami saat SD atau memang kapasitas memori saya sangat2 terbatas. Setelah saya kuliah, saya memang lebih pelupa daripada saat saya SMA. Saya jarang bisa ingat apa yang diterangkan oleh dosen kecuali saya mencatat poin2nya. dan saya hanya bisa ingat yang simpel2 saja. Pernah terpikir untuk konsultasi ke dokter tetapi saya belum sempat sampai sekarang.
Selama 3 tahun itulah, saya tetap ingat kata2 seseorang yang lebih pantas saya sebut sebagai senior saya di organisasi yang saya ikuti waktu itu. Tanpa ada dia, tentu saya tidak sesemangat ini kuliah lagi di fotografi - bidang yang berbeda jauh dengan jurusan saya sebelumnya. Semua orang yang baru mengenal saya pasti kaget mengetahui riwayat kuliah saya sebelumnya. Ya, saya tahu itu dan menyadarinya. Saya memilih bidang yang sekarang karena saya suka - berbeda dengan bidang yang dulu. Meski dulu saya bisa masuk tanpa tes, tapi saya tak terlalu menikmatinya.

Saya masih ingat saat kami bicara. Hanya sekitar 1-2 kali kami bertemu karena dia sebenarnya dari luar kota dan hanya mampir di kampus saya waktu itu. Saat itu saya masih newbie di organisasi dan modal nekat serta idealisme tinggi tentang organisasi. Kami berbincang-bincang. Ia lebih banyak bertanya tentang background saya karena waktu itu jurusan serta organisasi yang saya ikuti sama sekali tak ada korelasinya. Karena masih baru, tentunya saya jawab dengan penuh idealisme dan semangat. Semua pertanyaannya saya jawab hingga akhirnya ia menanyakan kenapa saya memilih posisi fotografer sedangkan yang lain tak ada yang memilihnya.

Saya menjawab karena saya suka fotografi. Ya, hanya karena itu. Kalau diingat-ingat, saya menjawab dengan asal. Sampai sekarang, kadang saya menjawab alasan mengapa saya melakukan sesuatu karena saya suka - bukan karena hal lain. Sesimpel itu. Waktu itu juga, saya sudah berencana menabung untuk biaya kuliah yang sekarang.

Entah kenapa, dengan sikap penuh ke-kakak-kan, dia menyetujui kalimat saya yang mengatakan kalau saya mau kuliah lagi di bidang fotografi karena saya ingin serius di situ. Saya ga peduli pendapat orang lain tentang menghabiskan uanglah, ga pastilah, buang2 waktulah, de es be. Di bidang yang dulu saja sudah dikomentari, yang sekarang juga. Apa yang ga dikomentari ? Apa saya harus kuliah di ekonomi atau komunikasi biar ga pada menyangsikan saya ?? - oke, saya curhat ga jelas lagi.

Kembali ke topik utama. Senior saya itu terlihat antusias lalu mengatakan hal yang terus saya ingat sampai sekarang : Dia menyarankan saya untuk meneruskan apa yang telah saya pilih *fotografi* sembari menambahkan jika mungkin saja saya menjadi fotografer perempuan pertama dari jurusan saya yang notabene tidak ada hubungannnya dengan fotografi. Yang ada malah fotogrametri = )

Saya menganggap apa yang dikatakannya berarti karena saat itu tak satupun teman saya memberi semangat untuk terus maju dan serius di bidang fotografi. Semua tak terlalu peduli dan menyangsikan keseriusan saya untuk kuliah lagi. 

Setelah pertemuan itu, saya tak pernah lagi bertemu dengannya. Bahkan hingga saya lulus kuliah. Padahal saya ingin sekali mengucapkan terima kasih karena telah memberi saya semangat dan semakin mantap untuk menapakkan kaki saya di bidang fotografi. Saya telah berusaha untuk meraih mimpi saya belajar fotografi dan saya perempuan pertama dari jurusan saya dulu yang serius di fotografi *senior yang lain sebelumnya ada tetapi laki2 dan mereka telah lulus ketika saya masuk kuliah*

Saya tahu mungkin saya berlebihan. Namun, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih karena membuat saya terus maju dan saya telah membuat sebagian mimpi saya jadi kenyataan. Perkataannya sederhana dan saya bahkan kurang nmengenal dia dengan baik, tetapi perkataannya membuat saya terus percaya bahwa saya bisa meraih mimpi saya.

So, for my senior, thank you very much for your attenttion and your advice. I'll make my dreams come true and maybe when we meet again, I can take your picture with my camera.

0 komentar: