THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Kamis, 17 Maret 2011

Beat of Heart #3

3
Hope
(Rai’s View)

Sudah hampir tiga hari ini aku mengawasi seorang gadis bernama Fuyumi yang menderita penyakit yang cukup parah. Menurut atasanku, hidupnya tinggal beberapa bulan lagi.

Terus terang, dia menarik. Ya, dia tipe orang yang tidak akan pernah mati dengan tenang karena banyak sekali urusan di dunia yang belum ia selesaikan. Dia orang yang terlihat kuat padahal sebenarnya lemah, orang yang ragu dengan perasaannya, dan orang yang sangat logis – setidaknya itu menurutku.

Yah, tugasku hanya mengawasinya dan menawarkan sesuatu yang takkan mungkin dipercaya olehnya. Memberinya kesempatan hidup normal seperti orang sehat selama sebulan dan sebagai gantinya maka ia akan kehilangan kesempatan hidupnya selama sebulan. Jadi bisa dikatakan, dia harus mengorbankan sebulan waktu hidupnya dari jatah yang ia miliki untuk mengganti kesempatan hidup seperti orang normal itu.

Memang, tawaran ini sangat beresiko. Manusia takkan pernah tahu kapan ia meninggal. Jika memang ia masih diberi kesempatan hidup setahun lagi, maka waktu hidupnya tinggal 11 bulan. Namun, bagaimana jika waktu hidupnya tinggal sebulan lagi ? Sudah bisa dipastikan, sebulan setelah dia bisa merasakan hidup normal, dia harus meninggalkan dunianya. Aku sendiri tak pernah tahu berapa lama jatah hidup yang diberikan pada manusia yang harus aku awasi. Aku hanya diberi perintah untuk menawarkan itu dan menjaganya – memastikan bahwa manusia itu akan memahami betapa berharganya kehidupan itu.

Sayangnya, manusia lebih mementingkan egonya. Tak jarang mereka langsung menerima tawaranku dan menyesal setelah tahu bahwa ia menukar waktu hidupnya dengan kesempatan hidup yang sebenarnya semu itu. Dan kadang mereka mengisi waktu hidupnya yang tinggal sebulan itu dengan sesuatu yang merugikan dan terpaksa mati dengan sia-sia.

“Aku kadang bingung dengan manusia,”

Aku menoleh ke arah temanku – Wise. “Kenapa kau bingung ?”

Wise menghela napas panjang. “Mereka akan memohon ketika situasinya sangat genting dan lupa saat semuanya sesuai keinginannya.” Ia memperhatikan langit yang berwarna biru. “Ketika diberi kesempatan untuk berubah atau memperbaiki, kadang mereka tak menyadarinya.”

“Dan bertindak bodoh, begitu maksudmu ?” Tanyaku.

Wise mengangguk pelan. “Jadi, seandainya mereka sudah waktunya pergi barulah mereka merasa menyesal dan akan memohon-mohon agar bisa kembali.” Ia menoleh ke arahku. “Memang tidak semua, tapi tetap saja itu menjengkelkan.” Ujarnya. “Mereka tak pernah bisa mensyukuri apa yang mereka dapat selama ini.”

“Aku tak bisa mengatakan apa-apa soal itu.” Kataku. “Karena aku juga tak memahaminya. Mereka seperti sebuah misteri. Kadang ada yang memanfaatkan hidupnya dengan baik, kadang malah menyia-nyiakannya. Di satu sisi, ada yang ingin tetap hidup tapi tak bisa tapi ada yang sebenarnya bisa hidup tetapi malah melakukan hal yang sia-sia dalam hidupnya.”

Kami berdua terdiam dan sama-sama melihat kembali ke arah langit berwarna biru. Kami sama-sama tak bisa mengerti kenapa manusia seperti itu. Yang kami tahu, mereka kadang begitu ketakutan saat kami datang untuk mengantar mereka ke tempat selanjutnya. Tak jarang, kami melihat mereka menangis tanpa bisa melakukan apapun.

“Bagaimana rasanya menjadi manusia ?” Tanyaku tiba-tiba.

Wise yang saat itu sedang berbaring langsung duduk. “Maksudmu ?”

“Ya, aku ingin tahu rasanya menjadi sosok manusia seperti yang selalu kita temui itu. Aku ingin bisa memahami mereka.” Aku tersenyum tipis ke arah partnerku itu. “Agar aku bisa lebih memahami tentang tugasku ini.”

“Bukankah selama ini kau diberi kesempatan untuk berada di samping mereka yang harus kau antar ke tempat selanjutnya ? Selama satu bulan itu, kau diberi kesempatan untuk memahami mereka, ‘kan ?”

“Tapi aku tak pernah bisa memahami mereka, mereka terlalu rumit. Kau sendiri juga ingin memahami mereka, ‘kan ?”
Akhirnya Wise menghela napas panjang. “Kita tak harus memahami mereka, Rai. Itu bukan tugas kita.” Ia berdiri dan mengeluarkan jamnya. “Yah, aku harus kembali bertugas. Baik-baiklah di sini.” Ujarnya sebelum menghilang.

Tinggal aku sendirian di sini. Masih memandang langit dan mencoba memahami setiap tindakan manusia yang kadang tak kumengerti. Aku memang tak bertugas untuk memahaminya, tetapi aku ingin memahami mengapa mereka seperti itu.


Ketika aku kembali ke kamar Fuyumi, kulihat dia yang sedang asyik mendengarkan musik. Sesekali ia tersenyum dan menyanyikan lagu itu dengan pelan. Suasana kamarnya sepi – hanya ada dia saja. Dia tak seperti sedang sakit, wajahnya sangat ceria.

“Kenapa kau datang lagi ?” Tanya Fuyumi. “Aku belum bisa memutuskan tentang penawaranmu itu.”

Aku masih berdiri ditempatku. “Aku datang kemari bukan untuk itu, kenapa setiap kali aku datang reaksimu seperti itu ?”

“Karena kau seperti tukang kredit.” Jawabnya. “Menawarkan sesuatu dan datang setiap hari untuk mendapat jawabannya, bukankah itu lebih mirip tukang kredit ?”

“Aku tak mengerti apa maksudmu, apa itu tukang kredit ?” Aku tak mengerti dengan yang dia maksud.

Gadis itu tersenyum geli saat aku bertanya. “Orang yang suka menagih kredit atau hutang pada mereka yang mengajukan hutang atau kredit.”

Hah ? Apa aku seperti itu ?

“Apa . . . aku seperti itu ?” Tanyaku ragu.

Kali ini Fuyumi tertawa. “Kau sangat polos.” Ujarnya. “Bagaimana kau bisa percaya dengan apa yang aku katakan ? Kau itu setidaknya seorang model atau dokter, barulah terlihat keren.”

Eh ?

“Kenapa kau malah bengong begitu ? Apa kau tak pernah bercanda ?” Tanyanya. Aku diam saja. “Ah, kau ini membosankan !”

“Bagaimana kau tahu kalau seseorang itu membosankan ? Kau tak pernah mengenalku sebelumnya, ‘kan ?” Tanyaku.
Fuyumi hanya meringis. “Pokoknya aku tahu !” Serunya penuh semangat, tapi tiba-tiba ia memegang dadanya. “Terlalu bersemangat lagi, ya.” Gumamnya, tangannya menyentuh pakaianku. Basah dan dingin. “Bisakah kau mengambilkan saputangan atau tisu untukku ?”

Dalam sekejap, aku mengeluarkan tisu dari saku pakaianku kemudian menyerahkannya. Kulihat ia terus menggenggam tisu yang aku berikan dan kembali ke posisinya semula. “Tentang tawaranmu, apa bisa berlaku untuk orang lain ?” Tanyanya.

“Maksudmu ?” Aku tak mengerti dengan pertanyaannya.

“Seandainya ‘kesempatan untuk hidup kembali’ itu aku berikan pada orang lain tetapi kesempatan hidupku tetap diambil satu bulan sebagai konsekuensinya...bisakah begitu ?” Ia menoleh ke arahku. “Hanya seandainya.”

“Tidak, tiap orang memiliki kesempatannya sendiri.” Jawabku. “Kau hanya bisa meminta satu permintaan terakhir sebelum akhirnya tiba giliranmu dan permintaan itu bebas.”

Kali ini Fuyumi menggaruk kepalanya. “Apa itu berarti aku memiliki dua kesempatan ? Lewat ‘kesempatan untuk hidup kembali’ dan ‘permintaan terakhir’-ku ?” Tanyanya.

Aku mengangguk. “Selebihnya, kau tak bisa berbuat apa-apa. Nah, adakah permintaan yang ingin kau wujudkan ?”
Ia menggelengkan kepalanya. “Belum, aku akan katakan apa permintaanku ketika saatnya tiba.” Matanya menerawang. “Sampai ketemu besok lusa, sekarang aku mau istirahat.”

“Apa kau tak ingin jalan-jalan sebentar ? Sepertinya kau begitu bosan.” Aku menawarkan diri untuk mengantarnya. “Aku bisa menyamar menjadi dokter.”


Ia menyetujui tawaranku dan disinilah kami sekarang. Ia duduk sembari memperhatikan orang-orang yang lewat. Aku sendiri menjadi dokter yang mendampinginya. Seperti biasa, semua orang percaya.

“Akan aku katakan satu permintaanku sekarang.” Kata Fuyumi.

“Maksudmu ? Bukankah kau akan mengatakannya besok lusa ?” Tanyaku.

Gadis itu tersenyum tipis. “Aku berubah pikiran, akan aku katakan sekarang.” Ia menghela napas. “Aku ingin semua keinginanku terpenuhi sampai tiba waktunya operasi.” Ujarnya penuh percaya diri.

“Kau hanya bisa mengatakan satu permintaan saja, bukan semuanya !!” Kataku.

Fuyumi menyeringai. “Kau tak memperhatikan kalimatku rupanya. Aku ingin semua keinginanku terpenuhi sampai tiba waktunya operasi.” Ujarnya. “Kau mengatakan jika aku hanya boleh punya satu permintaan dan aku memang memintanya hanya satu. Kau tak bisa menyalahkan aku.”

“Baiklah, baiklah, aku akan mengabulkannya sampai tiba waktunya kau operasi.” Aku mengeluarkan sebuah pita berwarna putih kemudian menyerahkannya pada Fuyumi. “Kau bisa memanggilku dengan pita ini.”

Keningnya berkerut setelah aku menyerahkan pita putih itu. “Hah ? Maksudmu ? Apa yang harus aku lakukan dengan pita putih ini ?”

“Panjang pita itu adalah kesempatanmu untuk mengajukan permohonan. Yang harus kau lakukan adalah menariknya ke kanan maka aku akan muncul untuk menolongmu dalam mengabulkan permohonan.” Aku perhatikan pita putih yang cukup panjang itu.

Pelan, gadis itu menarik pita yang aku berikan. “Aku ingin kembali ke kamarku tanpa orang tahu.” Ujar Fuyumi, memandangku aneh. Tanpa harus menunggu lama, kami sudah kembali berada di kamar Fuyumi. Gadis itu melongo karena tak percaya dengan apa yang dia lihat. “Ini benar-benar gila, aku pasti sedang bermimpi.” Gumamnya, menoleh ke arahku. “Kau . . . seorang pesulap, ‘kan ?”

Aku tak menjawabnya. Apa aku mirip seorang pesulap ? Mungkin saja. Banyak manusia yang mengira aku seorang pesulap. Kulihat Fuyumi yang kembali tersenyum. “Mengapa kau begitu suka tersenyum ?” Tanyaku penasaran.

“Apa itu salah ?” Sahut Fuyumi, menoleh ke arahku. Aku mengangkat bahu. “Tersenyum membuatku mengetahui bahwa semua akan baik-baik saja, setidaknya aku membuat ibuku tidak terus-menerus khawatir.” Ia memperhatikan aku dengan seksama. “Apa . . . . kau tak pernah tersenyum ?”

“Kadang, tapi tidak sesering kau.” Kataku. “Kau seperti tak takut untuk meninggalkan semuanya.”

“Karena . . . tak ada gunanya aku takut atau khawatir.” Jawab Fuyumi. “Jika operasi itu berhasil, cepat atau lambat aku juga akan ‘pergi’, ‘kan ? Jika operasi itu gagal, maka itu hanya mempercepat semuanya.”

“Kau tak boleh berkata seperti itu. Panjang atau pendeknya kesempatan hidupmu bukan kau yang menentukannya.” Kataku. “Yang terpenting sekarang, kau harus benar-benar menggunakan kesempatan yang ada.”

Gadis itu tersenyum aneh, badannya bergetar. Aku perhatikan, air mata menetes dari pelupuk matanya. Membasahi pakaiannya. “Aku tak ingin sendirian. Aku tak ingin meninggalkan kedua orang tuaku. Aku . . . . ” Ia semakin menundukkan kepala. “Takut.”

“Selama ini kau jarang berbuat jahat, ‘kan ? Kenapa kau harus takut ?” Aku menyodorkan sebuah sapu tangan. “Pergunakan kesempatanmu dengan baik dan kau takkan pernah menyesal pernah hidup.”


Beberapa hari kemudian ;

Hari ini Fuyumi keluar dari rumah sakit. Semua terkejut dengan perubahan kondisi Fuyumi yang langsung membaik. Wajah gadis itu sangat ceria. Pembicaraan kami beberapa hari yang lalu sepertinya mempengaruhi dia. Dia ingin mempergunakan kesempatan yang ia miliki dengan baik.

“Rai !” Panggilnya.

Aku menoleh kearahnya.”Sepertinya kau lebih baik sekarang.”

“Tentu saja ! Akhirnya aku pulang ke rumah ! Aku tak harus tinggal di kamar rumah sakit !” Jawabnya penuh semangat. “Apakah aku masih bisa meminta sesuatu padamu ?”

“Selama pita itu belum habis.” Jawabku. “Apa permintaanmu kali ini ?”

Ia terdiam sebentar kemudian tersenyum. “Apakah kau akan disampingku selama pita ini belum habis ?” Tanyanya.

“Tentu saja, itu kewajibanku.” Kataku, memperhatikan wajah Fuyumi yang berseri-seri dan bersemangat. Sama sekali tak terlihat bahwa dia menderita sakit yang parah.


Hari ini, dia mengajakku jalan-jalan. Fuyumi berpamitan pada ibunya sebelum pergi dan hanya mengatakan jika dia ingin membeli sebuah majalah di toko. Ia memasang pita pink di pergelangan tangan kanannya dan sesekali tersenyum ke arahku.

“Kak Takeru !!” Teriak Fuyumi bersemangat ketika ia tiba di depan sebuah lapangan. Seorang laki-laki menoleh ke arahnya dan melambaikan tangannya. Fuyumi mendekatinya dan senyumnya lebih lebar daripada biasanya.

“Kapan kau keluar dari rumah sakit, Fuyumi ?” Tanya Takeru, melepas kacamatanya.

“Kemarin.” Jawab Fuyumi, wajahnya berseri-seri. “Kakak sedang apa ?”

Belum sempat Takeru menjawab, datanglah seorang gadis yang sebaaya dengan Fuyumi. Dia anggun dan cukup cantik. Begitu melihatnya, wajah Fuyumi sedikit berubah. “Aah, Sora !!” Ia memeluk gadis itu.

“Kapan kau keluar dari rumah sakit ?” Pertanyaan yang sama diajukan Sora sama seperti yang diajukan Takeru. Fuyumi menjawab dengan jawaban yang sama.

“Pakaian kalian sama dan gelang yang kalian pakai juga sama. Apa kalian sudah ‘jadian’ ?” Tanya Fuyumi.

“I-itu...” Keduanya langsung salah tingkah.

“Tidak apa-apa, kok. Oh iya, aku mau beli majalah dulu. Jika kalian ada kegiatan lagi, beritahu aku ya.” Fuyumi menghela napas panjang. “Oke ?”

Aku perhatikan wajahnya yang palsu itu. Ia menahan emosinya dan memaksakan diri untuk tersenyum didepan keduanya. Bisa dipastikan, dia sedang kembali memicu sakitnya agar kambuh. Dia bergegas pergi dari tempat Takeru dan menuju toko majalah. Hanya saja, kali ini ia menundukkan kepalanya. Ia sama sekali tak menyentuh pita yang aku berikan. Ia terus menundukkan kepalanya.

Hingga akhirnya kami tiba di depan sebuah kuil. Fuyumi berhenti di situ kemudian duduk – masih menundukkan kepalanya.

“Apa kau memerlukan sesuatu ?” Aku mendekatinya. “Kau masih memiliki pita yang cukup panjang.” Fuyumi menggelengkan kepalanya, badannya mulai bergetar. Ia mulai meneteskan air mata. “Apa kau ingin melakukan sesuatu saat ini ?”

“Tidak.” Jawab Fuyumi pelan.

“Tapi kau bisa meminta menjadikan Takeru milikmu, setidaknya aku pernah menerima permintaan seperti itu.”

“Aku memang menyukainya, tapi aku takkan sejahat itu !” Gadis itu masih menahan emosinya. Benar saja, ia mulai memegang dadanya. Napasnya mulai tak teratur. Ia memang menyentuh pitanya tetapi tidak mengucapkan permintaannya dan hanya menatapku – entah apa maksudnya. Tak lama kemudian ia berdiri tetapi langsung terjatuh.

0 komentar: