THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Rabu, 09 Maret 2011

BEAT OF HEART #2

2
Light
(Fuyumi’s View)

“Kau sudah bangun ?”

Aku menoleh. Ini di mana ? Ini bukan kamarku. Lalu, siapa dia ? Aku sedang di mana ?

“Siapa kamu ? Kenapa ruangan ini begitu putih ?” Tanyaku ingin tahu.

“Di kamarmu. Lebih tepatnya kau sedang di rumah sakit, dirawat untuk kesekian kalinya.” Jawab orang itu. Ia seorang laki-laki dan memakai tuxedo putih pula. Posturnya mengingatkan aku pada kak Takeru. “Kelelahan yang sangat menjadi penyebabnya. Kenapa kau melakukannya ?”

“Darimana kau tahu tentang itu ? Aku bahkan tak mengenalmu.” Aku melihat sekeliling dan tak ada yang aneh.

“Kau bisa memanggilku Rai.” Jawabnya. “Dan aku kemari untuk memberi penawaran padamu.”

Penawaran ? Apa maksudnya ?

“Apa kau tahu resiko tentang sakitmu ?” Tanya Rai. Aku menganggukkan kepala. “Aku kemari untuk memberimu kesempatan agar kau bisa merasakan hidup normal seperti teman-temanmu tapi hanya dalam waktu satu bulan, setelah itu kau akan kembali seperti sekarang dan mungkin kondisimu akan memburuk.”

Aku hanya bisa tertawa mendengar itu. Dia pasti bercanda. Tak pernah ada yang menawarkan hal seperti itu seumur hidupku. Aku pasti sedang di alam mimpi. Itu gila !

“Sebagai gantinya, usiamu akan berkurang satu bulan dari total keseluruhan hidupmu.” Lanjut Rai.

“Kau gila, tak mungkin bisa seperti itu.” Aku mundur selangkah. “Yang mengendalikan hidup dan matiku bukan kau melainkan . . . . “

“Ada yang menyuruhku melakukannya.” Potong Rai. “Dan aku hanya melaksanakan tugas saja.”

“Aku tetap tak percaya, bagaimana aku tahu kau tidak jahat dan hanya menginginkan nyawaku seperti yang ada di film-film ?”

“Baiklah, kau bisa memikirkan itu semua nanti. Aku akan kembali menemuimu beberapa hari yang akan datang.” Sahut Rai.


Saat aku kembali membuka mata, yang kulihat adalah kamar rumah sakit dan Ibu. Beliau pasti khawatir sekali. Tiba-tiba aku teringat perkataan Rai. Aku ingin melihat Ibu yang tidak khawatir. Dari dulu, aku selalu membuatnya khawatir.

“Untunglah kau sudah sadar, tadi temanmu yang mengantar. Ibu ‘kan sudah menyuruhmu pulang kalau kau tak kuat, kenapa kau tetap nekat ?” Tanya Ibu. “Ibu sudah menelepon Ayah dan memberitahu keadaanmu,”

“Aku hanya kelelahan sedikit saja, tak perlu sampai memberitahu Ayah.” Kataku. “Itu bisa mengganggu studi ayah di sana.”

Ya, ayahku sebenarnya sedang mendapat tugas belajar di Rusia dan kabar aku masuk rumah sakit lagi hanya akan membuat konsentrasi belajarnya terganggu. Karena itu, aku melarang Ibu memberitahu Ayah tentang hal ini.

“Tapi ayahmu harus tahu. Sudahlah, sekarang apa yang kau inginkan ?” Tanya Ibu. “Apa kau ingin makan sesuatu ?”

“Aku hanya haus.” Kataku. Ibu langsung menyerahkan segelas air minum padaku. “Terima kasih.”

Kuperhatikan air minumku dan kata-kata Rai yang masih terngiang. Apakah itu benar ? Atau hanya halusinasiku saja ? Itu baru akan terjawab beberapa hari lagi.


Keesokan harinya :

“Kau hanya perlu barang-barang tadi ?” Tanya Ibu. Aku mengangguk. “Baiklah, Ibu akan pulang dulu. Jika kau perlu sesuatu, kau tahu harus bagaimana.”

“Ya, Ibu.”  Aku sudah terbiasa dengan ini semua. “Ibu cukup pulang dan kembali lagi, aku tak apa.”

Kulihat senyum tipis yang tersungging di wajah Ibu. Setelah mencium pipiku, beliau langsung keluar. Dan kini, aku sendirian di kamar.

“Fuyumi, nama yang bagus.”

Suara ini ! Bukankah ini suara Rai ? Tapi di mana dia ? Aku tak melihat siapapun di ruangan ini – selain aku. Tiba-tiba aku merinding. Sepertinya ada yang salah dengan diriku.

“Ya, ya, aku akan muncul.” Dan entah sejak kapan, Rai duduk disebelahku. Ia tersenyum lembut. “Apa aku mengagetkanmu ?”

“Sedikit.” Aku langsung sedikit menggeser dudukku.

“Kalau begitu, maafkan aku.” Ujar Rai. “Aku datang kemari hanya untuk menengokmu.”

Aku hanya tersenyum. “Aku sangat tersanjung mendengarnya, tapi aku tak percaya.” Kataku. “Kau bukan orang yang bisa langsung aku percaya.”

Rai tertawa. “Baru kali ini ada orang yang mengatakan hal seperti itu padaku. Yah, memang tampangku sulit untuk bisa dipercaya.”

“Kau seperti salah satu tokoh di ‘Ouran’, oportunis.” Kataku.

“Eh ?”

“Anime, kau tahu itu ?” Tanyaku. Jangan katakan kalau dia bahkan tak tahu apa itu anime.

 “Ya, aku tahu.” Aku menatapnya dengan tajam. “Kenapa kau kemari ? Bukankah semalam kau katakan jika aku tak harus memutuskan tentang penawaranmu hari ini ?”

“Hanya menengokmu, itupun kalau kau mau.” Jawab Rai. “Kalau tidak, aku akan pergi.”

“Baik, baik, aku terima alasanmu.” Kataku, berusaha mengambil air minum. Tapi gagal. Aku tak bisa meraihnya. Rai segera membantu. “Terima kasih.” Kataku. Ia menganggukkan kepalanya. “Tentang yang kau katakan kemarin . . . “

“Kau tak harus mengatakannya sekarang, kau bisa memikirkan lagi.” Sahut Rai. “Karena jika kau sudah menyetujuinya maka kau tak bisa membatalkan dan hidupmu yang jadi taruhannya. Kau tak pernah tahu kapan hidupmu berakhir. Bagaimana jika sisa hidupmu memang satu bulan lagi ? Apa kau mau menukarnya ?”

Aku tersenyum, “Jika itu memang bisa membuatku melakukan beberapa hal yang tak pernah bisa aku lakukan, aku akan menukarnya.”

Rai tersentak. “Kau sadar dengan ucapanmu ?” Tanyanya. “Kesempatan hidup itu bukanlah mainan. Sekali kau menukarnya, tak bisa kau ambil kembali.”

Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba pintu terbuka. Natsumi, Sora, dan kak Takeru masuk sembari tersenyum lebar. Aku langsung menoleh ke arah Rai, dia hanya tersenyum tipis dan masih duduk ditempatnya.

“Kenapa kau masih . . . . “

“Bagaimana keadaanmu ?” Tanya Natsumi, dia duduk ditempat Rai duduk. Aku hanya melongo ketika Natsumi duduk seolah tak ada apa-apa. “Kau tahu ? Kami panik sekali saat melihatmu pingsan.”

“Dan hari ini kami hanya bisa membawakan buket bunga untukmu.” Kata kak Takeru. “Sebagai permintaan maaf kami karena telah membuat sakitmu kambuh.” Ia menyerahkan buket bunga itu padaku. Bunga krisan putih. “Itu melambangkan persahabatan dan penghormatan.”

Aku hanya bisa tersenyum tipis melihat bunga itu. Seandainya saja artinya bukan itu, seandainya lebih dari yang lain. Ah, kenapa aku malah memikirkan hal yang terlalu jauh ?

“Wah, kak Takeru membuat Fuyumi termenung.” Kata Sora.

Buru-buru kak Takeru melihat wajahku. “Kau . . tak apa-apa, ‘kan ?” Tanyanya.

“Ti-tidak, terima kasih atas bunganya.” Kataku – sedikit malu.

Natsumi meminta bunga itu untuk ditempatkan di vas dekat tempat tidur yang kosong. “Jika diletakkan di sini akan lebih baik.” Ujarnya. “Bagaimana keadaanmu sekarang ? Apa masih separah kemarin ?”

“Tidak, sudah lebih baik.”

“Oh, syukurlah.” Natsumi menghela napas lega. Aku masih memperhatikan Rai yang masih duduk dengan tenang ditempatnya. “Ada apa ?” Tanya Natsumi. Aku hanya menggelengkan kepala.

Sora dan kak Takeru kemudian membuka jendela kamar sementara Natsumi ke toilet. Aku masih heran dengan Rai yang masih duduk dengan santai ditempatnya, seolah tak terjadi apa-apa.

“Bagaimana kau . . . .”

“Hanya kau yang bisa melihatku.” Potong Rai sembari tersenyum. “Tak ada orang lain yang tahu kalau aku di sini kecuali dirimu.” Aku hanya bisa melongo mendengarkan penjelasannya. “Jangan melongo begitu, kau mempermalukan dirimu sendiri di depan orang yang kau suka.”

“Si-siapa ?”

Rai tersenyum lebih lebar kemudian melirik ke arah kak Takeru yang sedang mengobrol dengan Sora. “Dia,”

“Kenapa kau bisa menyimpulkan begitu ?”

“Kau tak perlu tahu darimana aku mengetahuinya.” Ujar Rai. “Aku tahu setiap detil kehidupanmu.” Dan perlahan dia menghilang.

Detil kehidupanku ? Apa maksudnya ? Bagaimana dia tahu itu ?

“Fuyumi ?”

Suara Natsumi menyadarkan aku, entah sejak kapan dia duduk disampingku lagi. Aku hanya tersenyum tipis dan mengatakan jika aku tak apa-apa. Aku sempat memperhatikan Sora dan kak Takeru yang terus saja mengobrol kemudian tersenyum. “Kalau saja aku bawa kameraku, mereka tampak akrab sekali.”

“Ya, begitulah mereka.” Sahut Natsumi. “Apa kau perlu sesuatu ?”

“Tidak, aku tak memerlukan apapun.” Jawabku, terus memperhatikan sembari memikirkan perkataan Rai. Suka ? Aku bahkan tak tahu apakah kekagumanku pada kak Takeru akan berubah menjadi rasa suka.



0 komentar: