Kemarin sahabatku aku telepon. Dia sedang berada di tempatnya KKN (baca : Kuliah Kerja Nyata) di salah satu desa di Pekalongan. Tujuanku menelepon adalah untuk mengetahui apa yang pernah ingin dia sampaikan beberapa hari yang lalu di Semarang. Saat itu aku berada di rumah sehingga aku tidak di Semarang. Dia sempat meneleponku beberapa hari sebelumnya dan mengatakan kalau dia ingin menceritakan sesuatu padaku.
Maka aku meneleponnya kemarin sebagai tanda kalau aku baru sempat mencari tahu tentang pa yang ingin dia katakan padaku. Tadinya dia bilang kalo lupa sih, tapi akhirnya dia menceritakan apa yang ingin dia ceritakan padaku.
Dia bercerita tentang OKNUM guru yang mencontek saat ujian. Dia tak bisa membayangkan bagaimana seandainya murid guru itu mencontek, apakah akan dibiarkan saja ? kalau dilarang, sama saja mengingkari dirinya sendiri mengingat dia juga dulu mencontek. Dia juga dulu sempat bercerita tentang pengalaman masa laluku yang kemudian membuatku terus ingin maju, tak mau menerima kekalahan - sampai sekarang.
Dulu ketika aku SMP, ada try-out dari salah satu bimbel di kotaku. Dari hasil try-out itu bisa dilihat kesiapan seorang siswa untuk menghadapi UNAS. Dan aku mengerjakan semuanya sendiri saat itu sementara teman2ku yang lain saling mencontek. Hasilnya ? Dengan sukses aku jatuh, peringkatku terbawah satu angkatan. Saat itu, aku malu banget. Aku ingin membuktikan kalau aku tak sebodoh itu. Aku bisa lebih baik. Ya . . . meski ga sepenuhnya jadi peringkat paling atas, tapi juga bukan peringkat paling bawah.
Yang tak aku ketahui waktu itu, ternyata teman2 sekelasku sempat berkomentar tentang jatuhnya peringkatku itu. Kata sahabatku, ia sempat mendengar teman2ku komen atas kejadian yang menimpaku.
"Kok Rui bisa2nya di peringkat paling bawah, ya ?" Tanya seorang temanku.
"Ya iyalah, soalnya Rui sama sekali ga mau mencontek." Sahut teman sekelasku yang lain.
Dari cerita itu aku mulai kembali berpikir, apa salah jika aku mengerjakan soal yang ada dengan kemampuanku sendiri ? Selama ini orang2 disekitar selalu mengajarkan bahwa mencontek itu tidak benar dan hasil bukanlah segalanya. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa belajar dari proses menuju hasil itu. Dan selama ini aku mencoba menerapkannya dikehidupanku.
Sulit memang. Apalagi di tengah lingkungan yang menganggap bahwa hasil itu adalah segalanya dan orang tak peduli bagaimana kita menggapai hasil itu. Apakah aku memperolehnya dengan cara yang benar atau salah, apakah itu hasilku sendiri atau aku mencontek orang lain atau malah aku mengambil milik orang lain.
Aku bisa memahami mereka yang mencontek saat ujian. Antara takut, bersalah, tapi ingin berhasil. Mencontek memang cara paling mudah untuk mendapatkan hasil itu. Aku takkan memungkiri fakta bahwa beberapa kali aku mencontek dan tiap kali aku selesai mencontek maka aku akan merasa bersalah dan mengkhianati apa yang selama ini aku anut.
Memang, mungkin orang yang peringkatnya paling bawah terkadang bukan berarti dia yang terbodoh. Bisa saja dia mencoba mengerjakannya dengan semua kemampuannya, atau memang tak bisa sama sekali ? yang jelas, bukan berarti dia bodoh. Sayangnya, sedikit sekali orang yang berpikir bahwa dia harus bisa dengan kemampuannya sendiri. Karena penilaian bahwa hasil adalah segalanya dan tak mau kesulitan, maka legallah mencontek itu.
Terlepas dari pro-kontra mencontek. Aku hanya ingin mempertanyakan, apakah idealismeku tentang mencontek tu salah ? Selama ini teman2 disekitarku menganggap bahwa mencontek itu tak apa-apa, sedangkan aku terus berusaha menerapkan prinsip bahwa mencontek itu salah *karena itu sebisa mungkin aku tidak mencontek*. Apakah aku salah jika aku menerapkan idealisme pada kehidupanku sehari-hari ?
Maka aku meneleponnya kemarin sebagai tanda kalau aku baru sempat mencari tahu tentang pa yang ingin dia katakan padaku. Tadinya dia bilang kalo lupa sih, tapi akhirnya dia menceritakan apa yang ingin dia ceritakan padaku.
Dia bercerita tentang OKNUM guru yang mencontek saat ujian. Dia tak bisa membayangkan bagaimana seandainya murid guru itu mencontek, apakah akan dibiarkan saja ? kalau dilarang, sama saja mengingkari dirinya sendiri mengingat dia juga dulu mencontek. Dia juga dulu sempat bercerita tentang pengalaman masa laluku yang kemudian membuatku terus ingin maju, tak mau menerima kekalahan - sampai sekarang.
Dulu ketika aku SMP, ada try-out dari salah satu bimbel di kotaku. Dari hasil try-out itu bisa dilihat kesiapan seorang siswa untuk menghadapi UNAS. Dan aku mengerjakan semuanya sendiri saat itu sementara teman2ku yang lain saling mencontek. Hasilnya ? Dengan sukses aku jatuh, peringkatku terbawah satu angkatan. Saat itu, aku malu banget. Aku ingin membuktikan kalau aku tak sebodoh itu. Aku bisa lebih baik. Ya . . . meski ga sepenuhnya jadi peringkat paling atas, tapi juga bukan peringkat paling bawah.
Yang tak aku ketahui waktu itu, ternyata teman2 sekelasku sempat berkomentar tentang jatuhnya peringkatku itu. Kata sahabatku, ia sempat mendengar teman2ku komen atas kejadian yang menimpaku.
"Kok Rui bisa2nya di peringkat paling bawah, ya ?" Tanya seorang temanku.
"Ya iyalah, soalnya Rui sama sekali ga mau mencontek." Sahut teman sekelasku yang lain.
Dari cerita itu aku mulai kembali berpikir, apa salah jika aku mengerjakan soal yang ada dengan kemampuanku sendiri ? Selama ini orang2 disekitar selalu mengajarkan bahwa mencontek itu tidak benar dan hasil bukanlah segalanya. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa belajar dari proses menuju hasil itu. Dan selama ini aku mencoba menerapkannya dikehidupanku.
Sulit memang. Apalagi di tengah lingkungan yang menganggap bahwa hasil itu adalah segalanya dan orang tak peduli bagaimana kita menggapai hasil itu. Apakah aku memperolehnya dengan cara yang benar atau salah, apakah itu hasilku sendiri atau aku mencontek orang lain atau malah aku mengambil milik orang lain.
Aku bisa memahami mereka yang mencontek saat ujian. Antara takut, bersalah, tapi ingin berhasil. Mencontek memang cara paling mudah untuk mendapatkan hasil itu. Aku takkan memungkiri fakta bahwa beberapa kali aku mencontek dan tiap kali aku selesai mencontek maka aku akan merasa bersalah dan mengkhianati apa yang selama ini aku anut.
Memang, mungkin orang yang peringkatnya paling bawah terkadang bukan berarti dia yang terbodoh. Bisa saja dia mencoba mengerjakannya dengan semua kemampuannya, atau memang tak bisa sama sekali ? yang jelas, bukan berarti dia bodoh. Sayangnya, sedikit sekali orang yang berpikir bahwa dia harus bisa dengan kemampuannya sendiri. Karena penilaian bahwa hasil adalah segalanya dan tak mau kesulitan, maka legallah mencontek itu.
Terlepas dari pro-kontra mencontek. Aku hanya ingin mempertanyakan, apakah idealismeku tentang mencontek tu salah ? Selama ini teman2 disekitarku menganggap bahwa mencontek itu tak apa-apa, sedangkan aku terus berusaha menerapkan prinsip bahwa mencontek itu salah *karena itu sebisa mungkin aku tidak mencontek*. Apakah aku salah jika aku menerapkan idealisme pada kehidupanku sehari-hari ?
