Rabu, 21 Oktober 2009

Idealisme atau sebuah kesalahan ?

Kemarin sahabatku aku telepon. Dia sedang berada di tempatnya KKN (baca : Kuliah Kerja Nyata) di salah satu desa di Pekalongan. Tujuanku menelepon adalah untuk mengetahui apa yang pernah ingin dia sampaikan beberapa hari yang lalu di Semarang. Saat itu aku berada di rumah sehingga aku tidak di Semarang. Dia sempat meneleponku beberapa hari sebelumnya dan mengatakan kalau dia ingin menceritakan sesuatu padaku.

Maka aku meneleponnya kemarin sebagai tanda kalau aku baru sempat mencari tahu tentang pa yang ingin dia katakan padaku. Tadinya dia bilang kalo lupa sih, tapi akhirnya dia menceritakan apa yang ingin dia ceritakan padaku.

Dia bercerita tentang OKNUM guru yang mencontek saat ujian. Dia tak bisa membayangkan bagaimana seandainya murid guru itu mencontek, apakah akan dibiarkan saja ? kalau dilarang, sama saja mengingkari dirinya sendiri mengingat dia juga dulu mencontek. Dia juga dulu sempat bercerita tentang pengalaman masa laluku yang kemudian membuatku terus ingin maju, tak mau menerima kekalahan - sampai sekarang.

Dulu ketika aku SMP, ada try-out dari salah satu bimbel di kotaku. Dari hasil try-out itu bisa dilihat kesiapan seorang siswa untuk menghadapi UNAS. Dan aku mengerjakan semuanya sendiri saat itu sementara teman2ku yang lain saling mencontek. Hasilnya ? Dengan sukses aku jatuh, peringkatku terbawah satu angkatan. Saat itu, aku malu banget. Aku ingin membuktikan kalau aku tak sebodoh itu. Aku bisa lebih baik. Ya . . . meski ga sepenuhnya jadi peringkat paling atas, tapi juga bukan peringkat paling bawah.

Yang tak aku ketahui waktu itu, ternyata teman2 sekelasku sempat berkomentar tentang jatuhnya peringkatku itu. Kata sahabatku, ia sempat mendengar teman2ku komen atas kejadian yang menimpaku.
"Kok Rui bisa2nya di peringkat paling bawah, ya ?" Tanya seorang temanku.
"Ya iyalah, soalnya Rui sama sekali ga mau mencontek." Sahut teman sekelasku yang lain.

Dari cerita itu aku mulai kembali berpikir, apa salah jika aku mengerjakan soal yang ada dengan kemampuanku sendiri ? Selama ini orang2 disekitar selalu mengajarkan bahwa mencontek itu tidak benar dan hasil bukanlah segalanya. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa belajar dari proses menuju hasil itu. Dan selama ini aku mencoba menerapkannya dikehidupanku.

Sulit memang. Apalagi di tengah lingkungan yang menganggap bahwa hasil itu adalah segalanya dan orang tak peduli bagaimana kita menggapai hasil itu. Apakah aku memperolehnya dengan cara yang benar atau salah, apakah itu hasilku sendiri atau aku mencontek orang lain atau malah aku mengambil milik orang lain.

Aku bisa memahami mereka yang mencontek saat ujian. Antara takut, bersalah, tapi ingin berhasil. Mencontek memang cara paling mudah untuk mendapatkan hasil itu. Aku takkan memungkiri fakta bahwa beberapa kali aku mencontek dan tiap kali aku selesai mencontek maka aku akan merasa bersalah dan mengkhianati apa yang selama ini aku anut.

Memang, mungkin orang yang peringkatnya paling bawah terkadang bukan berarti dia yang terbodoh. Bisa saja dia mencoba mengerjakannya dengan semua kemampuannya, atau memang tak bisa sama sekali ? yang jelas, bukan berarti dia bodoh. Sayangnya, sedikit sekali orang yang berpikir bahwa dia harus bisa dengan kemampuannya sendiri. Karena penilaian bahwa hasil adalah segalanya dan tak mau kesulitan, maka legallah mencontek itu.

Terlepas dari pro-kontra mencontek. Aku hanya ingin mempertanyakan, apakah idealismeku tentang mencontek tu salah ? Selama ini teman2 disekitarku menganggap bahwa mencontek itu tak apa-apa, sedangkan aku terus berusaha menerapkan prinsip bahwa mencontek itu salah *karena itu sebisa mungkin aku tidak mencontek*. Apakah aku salah jika aku menerapkan idealisme pada kehidupanku sehari-hari ?

Senin, 17 Agustus 2009

I'm on my Way

Aku ingin mengatakan itu pada orang yang mengatakan kalau jalan yang kupliih itu salah. Dari kecil hingga aku dewasa (tapi aku kok ga ngerasa dewasa, ya ? Masih berasa anak SMA), ku selalu merasa jalan yang kupilih adalah salah. Karena itu, aku lebih memilih untuk menuruti saran orang2 disekitarku. Namun, lama-kelaman, aku merasa tertekan juga. Terutama ketika aku tahu kalau hasilnya tak sesuai dengan apa yang kuharapkan.

Seperti sekarang, ketika aku harus membuat sebuah tugas yang akan aku pertanggungjawabkan. Selama membuat tugas itu, ku meyakinkan diri (ato lebih tepatnya bertanya-tanya). Apakah memang ini jalan yang aku pilih ? Bukankah ini tak seperti yang aku harapkan ? Kenapa dunia yang tadinya kupikir menarik menjadi tak menarik lagi ? Apa benar ini yng kuinginkan ?

Aku ingin sekali menjalani pilihanku sendiri. Yang aku putuskan karena keinginanku sendiri, yang tidak ditentukan oleh orang lain. Oke, orang lain berutugas memberiku pandangan dan mengawasi, tetapi aku ingin menjalani sesuatu yang kupilih berdasarkan hatiku. Aku ingin bisa mengatakan kalau aku sudah mantap dengan jalan yang kupilih dan aku siap dengan resikonya.

Jumat, 24 Juli 2009

Is it really important ?

Minggu ini sngat . . sibuk, bukan karena kuliah melainkan karena aku mengikuti pelatihan pengukuran di kampus atas. Bukannya aku bete karena itu kemudian menulis ini, tetapi karena hal lain. Ya . . sebenernya banyak kekecawaan yang kurasakan akhir2 ini tapi aku ga tahu mesti gimana.

Dan sepulang pelatihan tadi tiba2 aku disadarkan oleh beberapa pertanyaan yang sebenarnya termasuk ke dalam daftar pertanyaan yang paling kubenci seumur hidupku (dan aku terpaksa menjawabnya karena . . . . entahlah, mungkin karena sopan santun ?). Pertanyaan itu membuatku kembali bertanya-tanya, apakah sampai detik ini pertanyaan seperti itu perlu ? Tentang asal-usul keluarga atau bagaimana suatu gelar bisa tercantum di namamu ?

Terus terang, ada sebuah gelar yang ada di nama depanku. Sebenarnya aku tak terlalu mempedulikan 2 huruf depan itu karena hingga detik ini aku tak mendapat manfaat apapun dari 2 huruf itu bahkan ledekan dan pandangan 'wah' (???) dari beberapa orang yang semakin membuatku ingin melepas 2 huruf depan itu kalau bisa !

Ya, itulah yang ditanyakan temanku. Ia bertanya bagaimana bisa aku memiliki gelar itu, keturunan orang mana (lebih spesifik lagi, Solo ato Jogja. U know what I mean ?), de es be, de es be, dan mempertanyakan nama nenek moyangku (hue ???). Aku santai saja menjelaskan, tetapi sebenarnya aku acuh ga acuh terhadap penjelasan itu. Aku tahu kalau dia hanya ingin mengetahui saja tanpa pengen macem2, tetapi ditanya seperti itu membuatku teringat bagaimana selama SD-SMP aku diledek habis2 dengan gelar itu, dianggap memiliki darah biru (padahal darahku merah abis ! Kalo biru, berarti aku bukan manusia doong . . . ) padahal keluargaku biasa2 saja. Dan terkadang karena 2 huruf depan itu, aku tak bebas bergerak. Memang, keluargaku tidak menekankan aku untuk bersikap bagaimana yang penting seperti cewek pada umumnya. Namun aku sendiri merasa tak bebas dengan 2 huruf itu. Aku merasa, setiap tindakanku tak boleh menyalahi aturan, harus sesuai yang ada, aku tak boleh membuat malu keluargaku, atau tak boleh melakukan hal2 yang tidak pantas bagi mereka yang memiliki gelar seperti aku.

Aku sudah pernah menanyakan kepada orang tuaku mengapa mereka tidak membuat akte kelahiran baru dengan nama asliku tanpa ada embel2 2 huruf itu. Namun, mereka mengatakan bahwa 2 huruf depan itu adalah bukti kebanggaan kakekku (yang menurut cerita keluargaku memang masih menganggap penting hal2 seperti itu) dan bukti kasih sayangnya padaku. Mau tak mau aku harus menerimanya.

Akhirnya, setelah semua pertanyaannya kujawab, aku sempat menoleh ke arah partner kelompokku dan bilang kalau aku ingin sekali melepas 2 huruf itu dari namaku. Ia hanya menanggapinya dengan tertawa sembari mengatakan kalau ingin dilepas ya dilepas saja. Aslinya tidak semudah itu, melepasnya berarti harus mengganti semua ijazah dan sertifikat atas namaku. Makanya aku hanya tersenyum tipis mendengar jawabannya.

Memang, pada akhirnya aku belajar untuk mengacuhkan gelar itu. Toh, tak ada untungnya bagiku. Kuanggap itu hanya bagian dari nama yang paling tak kusukai tetapi aku tak mampu menghapusnya.

Aku ingin sekali memiliki nama biasa tanpa gelar apapun kecuali akademis di namaku. Aku tahu, aku adalah cucu terakhir yang memiliki 2 huruf depan di depan nama aslinya. Adik2 sepupuku tidak memilikinya. Hidup mereka normal tanpa ledekan apapun, sedangkan aku terkadang harus menghadapi pandangan 'wah' orang disekitarku padahal hidupku biasa seperti mereka. Hal2 seperti itu membuatku tak bebas bergerak.

Rabu, 01 Juli 2009

A few of . . .

Ini adalah lagunya Enya. Mm . . . bagi yang belum tahu, Enya adalah seorang penyanyi yang berasal dari Irlandia. Genre musiknya New Age. Bagi aku yang lumayan 'buta' soal genre musik, aku tak peduli apa genrenya karena yang kupedulikan adalah bagaimana musik itu dan pengaruhnya bagiku. Lagu2nya semua kalem, ga terlalu 'berisik gitu'. Bagi yang masih kurang familiar, mungkin pernah mendengar lagu berjudul May It Be di film The Lord of The Rings, Only Time di film Sweet November, atau Exile di film L.A Story ? Karena itulah aku suka. Suaranya sangat . . . . lembut *menurutku*. Ini adalah video klip lagu Exile dari soundtrack film L.A Story. Dan entah kenapa, tiap kali mendengarkannya hatiku agak2 gimana gitu . . . yang jelas bagus banget ! Bagi yang biasanya mengikuti musik yang mainstream, tak ada salahnya mencoba mendengarkan ini, kok. Silakan menikmatinya. . . .



A few music . . . . .

Akhir2 ne, sibukkk . . . . banget. Sayangnya sih, bukan sibuk ngurusin TA ato belajar, tapi ngurusin Laptopku. Yo'a, teman dan sahabat terbaikku itu sudah koma bahkan kemungkinan mati dengan sukses *yang sayangnya juga ga mati2, berasa 'hidup segan mati tak mau'*. Seminggu ga ada dia, hampa banget. Berasa ga ada sesuatu yang selalu disampingmu dan dia pergi begitu saja.

Yang jelas, karena 2 minggu ne adalah minggu tenang, aku berada di rumah. Aku ke Semarang buat ambil kartu ujian, ke servuis centernya si laptop, en minggu ne juga ambilin kartu ujian temen. Karena berangkatnya kesiangan, maka aku masih di sini. Warnet deket kampus dan ngenet.

Btw, karena banyak hari libur itu *dan juga karena sekarang aku masih bikin TA yang terpaksa tertunda karena laptop kesayanganku itu rusak !* maka aku jadi sempet liat anime favoritku yang tayang dari Senin-Kamis. Apalagi kalo bukan Eyeshield 21 !! Yo'a, aku seneng banget pas episodenya ga diulang lagi. Artinya sudah benar2 menuju American Football.

Fyi, aku mulai mengikuti Eyeshield 21 dari manga-nya. Adek sepupuku yang di Tegal punya beberapa jilid manga-nya. Karena tertarik, aku iseng baca dan keterusan sukanya sama animenya. Kenapa aku sendiri ga beli manganya ? Karena prinsip hemat. Yup, aku pikir lebih baek pinjem adek sepupuku, toh dia 'kan punya lebih banyak. nah, aku sendiri beli manga yang kusukai dunk *mengingat banyaknya genre yang aku suka dan kebanyakan memang jenis shonen manga seperti Eyeshield 21. Eh, kalo Eyesheld 21 tuh sport, 'kan ?*. Dan juga aku suka sama musiknya (baca : soundtrack). Soundtracknya kereeeen !! Ini salah satunya : Blaze away yang dibawakan oleh Trax. Aku suka lagunya karena membuatku bersemangat.


Senin, 25 Mei 2009

Surat Iziinnya . . . .

Dari tahun pertama kuliah ampe sekarang, aku ke mana2 naek bus umum. Yeah, biasa aja emang. Ada beberapa sebab kenapa aku begitu, tapi lebih banyak adalah kekhawatiran kedua ortu akan keselamatanku (Itu susahnya kalo ga punya sodara kandung, ceroboh pula. Ortu bakal khawatir setengah mati).

Sampe tiba saatnya aku bener2 perlu sepeda motor maka aku belajar naek motor meski masih (kadang) ngawur juga dan ortuku langsung khawatir lagi. Aku nekat, minta belajar lagi . . dan lagi . . Habisnya, kalo suatu saat nanti aku butuh, masa' harus keluar kota cuman untuk dianterin ke mana2 ?

Akhirnya, permintaan itu di-acc. Aku boleh naek sepeda motor - kalo diperlukan. Dan meski aku udah cukup mahir (meski cuman motor matic), aku belum berani keluar ke jalan raya sendirian mengingat aku belum punya surat izin.

Ya, surat izin yang resmi itu lho . . . . .

Yang mesti pake sertifikat terus periksa dokter dulu dan ujian itu . . .

Harusnya minggu kemaren aku ga dapet karena bahkan ujian teori aja ga lulus. Fyi, aku ga ada persiapan sama sekali waktu itu. Jawabnya juga iseng. Intinya, kalo jawabanku udah dilakukan di dunia nyata maka aku ini udah mati. Banyak banget pertanyaan yang jawabannya sebenernya salah tapi aku benerin (jawaban pasti cuman bener ato salah). Begitu.

Akunya sih udah dibilangin sama oknum petugasnya buat ngulang minggu depan 'n sebenernya aku nurut aja mengingat aku memang ga lulus. Tapi begitu tahu kalo aku dateng sama ayahku, petugas itu mengatakan sesuatu yang ga kumengerti dan tiba2 aja ayahku mengeluarkan sejumlah uang untuk kemudian dibayarkan di loket yang ada bersamaan dengan berkasku.

Tiba2 aja aku ga usah ikut ujian prakteknya dan langsung ngecap sidik jari.

Ga lama kemudian, aku udah boleh ikut foto.

Trada !!!!

Jadilah surat izin itu. Dan aku ga usah ngulang lagi.

Sebenernya sadar sih kalo itu salah, bahkan aku sempet protes sama kedua ortu-ku yang sebenernya juga tau kalo aku berusaha untuk menghindari hal2 semacam itu. Namun, alasan mereka membuatku ga berkutik dan aku bisa diam saja. Alasan bahwa mereka berdua sangat sibuk dan seandainya kemaren aku ga sukses maka mereka ga bakal bisa nganter lagi karena sibuk. Mereka hanya menyuruhku untuk memperpanjang sendiri kalau misal aku ga puas dengan apa yang mereka lakukan untukku.

Aku jadi berpikir, apakah aku salah dengan apa yang kuanut selama ini ? Aku tahu itu ga bener. Padahal aku tahu juga kalo uang itu bukan bagian dari prosedur resminya. Namun, kenapa orang tuaku sendiri dengan dalih kesibukan mereka kemudian menganggap bahwa pungutan semacam itu legal ? Yang lebih kusayangkan lagi, kenapa hal2 semacam itu terjadi di dalam suatu lembaga yang seharusnya memeranginya ? Ternyata bukan hanya beberapa instansi yang kutahu sering sekali memberikan pungutan2, tapi juga sebuah lembaga yang selama ini hanya kuduga melakukannya (tapi sekarang aku tahu aslinya).

Tolong beritahu aku, apakah aku salah jika selama ini aku berusaha untuk menerapkan nilai2 yang selama ini kupelajari ke kehidupan sehari-hari ? Kenapa sebagian ada yang mengatakan itu benar tapi sebagian mengatakan itu salah ?

Senin, 18 Mei 2009

Lembur'z Story

Hidupku ga normal ! Ga bo'ong. Minggu kemaren yang namanya malem tetep aja jadi siang dan siang tetep jadi siang (oke, perumpamaan yang aneh). Semua itu ga laen ga bukan karena tugas menjiplak peta ditambah di-generalisasi yang gedenya kertas A3 itu.

Pasti pada mikir lagi. Di-generalisasi itu diapain sih ?

Intinya sih gini, peta yang akan digeneralisasi merupakan peta dengan ukuran dan skala yang besar. Ukuran peta yang kemaren jadi model adalah A0 (lebih gede daripada A3). Peta itu kemudian diperkecil termasuk skalanya. Jadi misalnya peta yang akan dikerjakan itu skalanya 1:5000, nanti kita fotokopi diperkecil menjadi 1/5 nya (Ini udah ada aturannya) artinya peta itu nantinya akan jadi berskala 1:25000. Setelah difotokopi diperkecil, peta yang udah dikopi dan jadi kecil tadi terus dijiplak di kertas kalkir dengan menggunakan drawing pen. Nantinya, ga semua dijiplak. Nah, ne yang namanya digeneralisasi. Ada beberapa gambar yang akan dipertahankan dan kemudian dibuang. Gambar yang dipertahankan (alias dijiplak) berupa informasi penting seperti jalan dan gedung sementara pemukiman (yang pasti jadi super kecil dan susah digambar) dipilih yang mengelilingi aja (sebagian besar). Susah sih kalo cuman penjelasan tapi ga diliatin. Ya . . sekitar itulah. Sebenarnya mudah, sih. Cuman yang bikin pegel jiplaknya itu lho.

Seandainya ga diceritain kalo salah satu temenku ada yang dibantuin pacarnya dan selesai dalam waktu 3 hari, mungkin aku ga bakalan kayak orang kalap gini. Bertekad menyelesaikan tugas itu dalam waktu 2 hari (untuk bagianku sendiri, bagian temenku ga tau). Dan sebenarnya aku lumayan berhasil, menyelesaikannya dalam waktu 3 hari 2 malam. Dengan waktu tidur yang amburadul dan sama sekali ga bisa mikirin yang laen kecuali tugas itu. Makan juga, the A apalagi. Bab 3 saja belum dibuat, padahal aku sudah kepikiran apa yang mau aku tulis.

Yah, untungnya minggu ne tugas itu udah kelar. Lembur minggu kemaren sudah selesai dan dimulai dengan lembur minggu ne. Akh !!! Pusinggg !!!